Selasa, 22 Juni 2010
Setelah peristiwa pertengkaran akibat kondangan, hubungan saya dengan Ai jadi lebih mesra. Saya jadi merasa tidak sia-sia berairmata bombay waktu itu. Meskipun demikian, saya toh tetap tidak bisa menyukai yang namanya kondangan. Sebatas tidak suka, bukan membenci. Bisa-bisa hati saya penuh dengan kebencian di bulan-bulan ini, kan sekarang lagi musim kawin (dah kayak kucing aja ada musimnya).
Kira-kira jam setengah enam pagi, Ria Amelia dengan SMS-nya melengking-dayu (dangdut seh) membuat saya bangun tidur dengan terpaksa. Dalam perkiraan saya, ibu-ibu tetangga sedang kumat isengnya sehingga mendadak menggelar senam massal.
Pura-pura memanasi motor di depan kamar, saya intip tetangga sebelah lewat pagar. Berharap benar ada sekumpulan ibu-ibu melenggak-lenggokkan badan. Aih... saya kecelik. Cuma ada tiga biji lelaki berdiri di samping sepasang sound system gede. Siang hari saya baru paham betul bahwa tetangga sebelah rupanya sedang punya hajat. Mantenan.
Jadilah sepanjang hari itu lagu dangdut menggema senatero gang. Saya memilih memutar lagu-lagu reggae campur ska untuk menyainginya. Urusan tante kos sekeluarga yang musti cari sumbat telinga akibat polusi bunyi campuran antara dangdut+reggae+ska, saya tidak mau ambil pusing.
Pulang kerja Ai mampir. Tumben bisa ngajak bercanda dari sebuah acara pernikahan. Biasanya hasrat mengajak bertengkar Ai akan tersulut oleh acara macam itu.
"Ada mantenan ya?"
"Iya tuh."
"Wih... dangdutan, tak pegangin ya jempolnya biar gak ikutan goyang."
"Mestinya bekap ni mulut, gatel aja pengen ikutan nyanyi."
Tawaran untuk membekap mulut rupanya ditanggapi dengan serius oleh Ai. Ah, dasar aja tu bojoku mesum dari lahir. Tapi saya juga tidak menolak kok dicium singkat ma dia, he he he....
"Eh, nyanyiin dong. Lagu dangdut yang biasanya sayang nyanyi itu lho." Saya sontak membebaskan diri dari pelukan Ai. Hah? lagu dangdut yang biasa saya nyanyikan?
"Alah, sok-sok an gitu. Biasanya juga dangdutan." Hem... sebegitu seringkah saya bernyanyi lagu dangdut buat dia? Seingat saya cuman sepenggal-sepenggal. Tiap kali Ai hendak pulang saya bernyanyi sepenggal, "Jangan tinggalkan aku... kumohon kepadamu" Tiap kali teleponan sebelum tidur saya bernyanyi sepenggal lagu, "Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu..."
Gak sering-sering amat kan?!
Jadi baiklah saya mengaku bahwa memang tujuan saya nyaingin dangdutan dadakan di rumah sebelah dengan reggae dan ska adalah demi menghindari latah pada bibir saya. Ini hari saya punya jadwal reggae dan ska. Jadwal buat dangdutan masih beberapa hari lagi, setelah Jazz, Hiphop Jawa, dan Bosanova. Saya cuma menghindari kekacauan dalam jadwal mendengarkan musik.
Di tengah perjuangan amat dahsyat untuk bersetia pada reggae dan ska, Ai malah jadi setan penggoda. Ah! Tak paham dia. Fakta bahwa saya terlebih dahulu mengenal dangdut ketimbang genre musik lainnya jadi hal yang amat berpengaruh.
Dahulu kala, semasa saya masih kecil, usai menunaikan sholat subuh ritual selanjutnya adalah menuju dapur. Jika sampai saat ini saya hanya bisa masak mi instant dan telor ceplok, itu karena saya ke dapur bukan buat belajar masak, melainkan icip-icip.
Saya punya ibu rupanya gemar sekali memasak sembari melantunkan tembang-tembang dangdut. Mulai dari lagunya Ida Laila, Kamelia Malik, Iis Dahlia, Elvi sukaesih, ibu saya hapal sepenuhnya. Trio Macan belum ada waktu itu.
Nah, kalau saya jadi hapal lagu-lagu dangdut jaman baheula kemudian jadi fasih menyanyikannya lumrah bukan?
Kalaupun pada akhirnya saya agak jengkel dengan dangdut, tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan total si Raja Dangdut Rhoma Irama.
Semasa saya SD, Si Rhoma itu pernah bikin saya gagal meraih nilai 100 buat pelajaran PMP.
Pasalnya, saya lebih percaya lirik lagu Si Rhoma ketimbang guru SD saya. Ngotot saya isikan 'Bhineka Tunggal IKa' untuk menjawab pertanyaan 'Apa lambang negara Indonesia?'
Coba deh simak lirik lagu Si Rhoma yang judulnya 135.000.000 Masak Si Rhoma dengan pede nyanyi gini, "Bhineka tunggal ika lambang negara kita Indonesia..." Lah... ketipu saya!
Sumpah saudara-saudara, jangan pernah memperdengarkan lagu itu pada anak SD.
Kira-kira jam setengah enam pagi, Ria Amelia dengan SMS-nya melengking-dayu (dangdut seh) membuat saya bangun tidur dengan terpaksa. Dalam perkiraan saya, ibu-ibu tetangga sedang kumat isengnya sehingga mendadak menggelar senam massal.
Pura-pura memanasi motor di depan kamar, saya intip tetangga sebelah lewat pagar. Berharap benar ada sekumpulan ibu-ibu melenggak-lenggokkan badan. Aih... saya kecelik. Cuma ada tiga biji lelaki berdiri di samping sepasang sound system gede. Siang hari saya baru paham betul bahwa tetangga sebelah rupanya sedang punya hajat. Mantenan.
Jadilah sepanjang hari itu lagu dangdut menggema senatero gang. Saya memilih memutar lagu-lagu reggae campur ska untuk menyainginya. Urusan tante kos sekeluarga yang musti cari sumbat telinga akibat polusi bunyi campuran antara dangdut+reggae+ska, saya tidak mau ambil pusing.
Pulang kerja Ai mampir. Tumben bisa ngajak bercanda dari sebuah acara pernikahan. Biasanya hasrat mengajak bertengkar Ai akan tersulut oleh acara macam itu.
"Ada mantenan ya?"
"Iya tuh."
"Wih... dangdutan, tak pegangin ya jempolnya biar gak ikutan goyang."
"Mestinya bekap ni mulut, gatel aja pengen ikutan nyanyi."
Tawaran untuk membekap mulut rupanya ditanggapi dengan serius oleh Ai. Ah, dasar aja tu bojoku mesum dari lahir. Tapi saya juga tidak menolak kok dicium singkat ma dia, he he he....
"Eh, nyanyiin dong. Lagu dangdut yang biasanya sayang nyanyi itu lho." Saya sontak membebaskan diri dari pelukan Ai. Hah? lagu dangdut yang biasa saya nyanyikan?
"Alah, sok-sok an gitu. Biasanya juga dangdutan." Hem... sebegitu seringkah saya bernyanyi lagu dangdut buat dia? Seingat saya cuman sepenggal-sepenggal. Tiap kali Ai hendak pulang saya bernyanyi sepenggal, "Jangan tinggalkan aku... kumohon kepadamu" Tiap kali teleponan sebelum tidur saya bernyanyi sepenggal lagu, "Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu..."
Gak sering-sering amat kan?!
Jadi baiklah saya mengaku bahwa memang tujuan saya nyaingin dangdutan dadakan di rumah sebelah dengan reggae dan ska adalah demi menghindari latah pada bibir saya. Ini hari saya punya jadwal reggae dan ska. Jadwal buat dangdutan masih beberapa hari lagi, setelah Jazz, Hiphop Jawa, dan Bosanova. Saya cuma menghindari kekacauan dalam jadwal mendengarkan musik.
Di tengah perjuangan amat dahsyat untuk bersetia pada reggae dan ska, Ai malah jadi setan penggoda. Ah! Tak paham dia. Fakta bahwa saya terlebih dahulu mengenal dangdut ketimbang genre musik lainnya jadi hal yang amat berpengaruh.
Dahulu kala, semasa saya masih kecil, usai menunaikan sholat subuh ritual selanjutnya adalah menuju dapur. Jika sampai saat ini saya hanya bisa masak mi instant dan telor ceplok, itu karena saya ke dapur bukan buat belajar masak, melainkan icip-icip.
Saya punya ibu rupanya gemar sekali memasak sembari melantunkan tembang-tembang dangdut. Mulai dari lagunya Ida Laila, Kamelia Malik, Iis Dahlia, Elvi sukaesih, ibu saya hapal sepenuhnya. Trio Macan belum ada waktu itu.
Nah, kalau saya jadi hapal lagu-lagu dangdut jaman baheula kemudian jadi fasih menyanyikannya lumrah bukan?
Kalaupun pada akhirnya saya agak jengkel dengan dangdut, tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan total si Raja Dangdut Rhoma Irama.
Semasa saya SD, Si Rhoma itu pernah bikin saya gagal meraih nilai 100 buat pelajaran PMP.
Pasalnya, saya lebih percaya lirik lagu Si Rhoma ketimbang guru SD saya. Ngotot saya isikan 'Bhineka Tunggal IKa' untuk menjawab pertanyaan 'Apa lambang negara Indonesia?'
Coba deh simak lirik lagu Si Rhoma yang judulnya 135.000.000 Masak Si Rhoma dengan pede nyanyi gini, "Bhineka tunggal ika lambang negara kita Indonesia..." Lah... ketipu saya!
Sumpah saudara-saudara, jangan pernah memperdengarkan lagu itu pada anak SD.
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
nyooooooooooooooooooook
Posting Komentar