Selasa, 01 Juni 2010
Senin, 3 Mei 2010.
Gerimis turun sejak dini hari, penggenap kemacetan jalan raya yang sempurna. Saya sempat hawatir, beberapa hari sebelumnya, kondisi cuaca seperti ini plus letupan lumpur baru yang amat dekat dengan badan jalan raya melumpuhkan jalur Porong.
Saya coba meredam kehawatiran dengan membaginya pada Cahyo lewat sms. Amat cepat Cahyo membalas, saya amat bersyukur mendapati fakta bahwa Cahyo mampu memindahkan kecanggihan bibir ke jempol ketika ber-sms. “Lha piye, sido ndene ra?” balas Cahyo. “Tak usahain,” kata saya.
Menyadari konsekuensi dari ‘Tak usahain’, saya berberes. Listrik di kamar dah mati semua, tabung gas pesanan Pras masuk ransel, beberapa batang coklat masuk ransel pula. Sleping bag? Hm… saya singkirkan. Pras menyuruh saya membawa sleping bag lebih jika ada, itu tandanya kemungkinan besar Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ tidak membawa sama sekali. Saya tak mau egois dong, jangan-jangan nanti saya amat nyaman dengan sleping bag, mereka kedinginan dan melirik saya dengan dengki. Auuu…
Gerimis sudah tak berbekas ketika saya sampai di Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih. Segera saya menuju peron, membayar Rp200 perak. Peron terminal ini selalu membuat saya menaruh simpati jika membandingkannya dengan Peron Terminal Tirtonadi, Solo. Jelas-jelas di karcis tertulis Rp.200, kok ya petugasnya ngeyel minta Rp.500. Saya tidak pernah dikasih kembalian ketika menyodorkan uang Rp.500. Jika saya sodorkan Rp.200 perak saja, petugasnya menggeram minta lebih. Cih, hal menyebalkan yang saya ingat akan Solo.
Dari Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih, saya naik bus menuju Jember. Tanpa menunggu lama bus segera berangkat. Di sebelah tempat duduk saya ada seorang perempuan. Saya taksir umurnya kira-kira antara 40-45 tahun. Setelah pandang-pandang dan senyum-senyum sedikit perempuan di sebelah saya membuka obrolan. Khas obrolan penumpang bus, orang-orang selalu melupakan etika berkenalan: menanyakan nama. Basa-basi mengenai tujuan selalu jadi pertanyaan awal yang diajukan.
Selesai dengan basa-basi biasa, perempuan disebelah saya tiba-tiba menjelma menjadi orang yang jago bercerita. Sementara saya jadi pendengar setia. Kalau saya rangkum, ceritanya akan jadi seperti ini:
Di masa lampau, Sang Perempuan mengadu nasib ke Malaysia. Sebagai TKI legal, beruntung dia menemukan majikan yang baik. Kerja selama kurang-lebih tujuh jam di sebuah restoran dengan gaji yang memuaskan. Sebagian gaji disisihkannya, sebagian lagi dikirim pulang pada kedua orang tuanya di Lumajang. Rupa-rupanya Sang Perempuan ini selain berbakti pada orang tua, juga mengidap penyakit bernama homesick. “Masiyo wes tuwo ngene iki, aku yo kangen terus karo omah, karo simbok-bapak lho mbak,” ujar sang Perempuan.
Nah, sebab makin lama homesick yang diidapnya makin parah, dia memutuskan pulang ke Indonesia. Berucap selamat tinggal selamanya pada Negeri Jiran. Sungguh anak yang berbakti ya…
Perjalanan kali ini pun ditempuh olehnya guna mengobati homesick yang diidapnya. Sang Perempuan yang sekarang bekerja sebagai pegawai urusan kerumah-tanggaan, sukses merayu bosnya agar mengijinkan pulang ke Lumajang dua bulan sekali. Khusus mengenai bosnya di Surabaya ini, Sang perempuan meluangkan waktu lebih banyak untuk bercerita pada saya.
“Majikanku cerewet pol, Mbak, seng saiki. Seng wedok, nek seng lanang asline wong-e apik. Nek aku masak ono wae seng kurang jarene. Padahal yo wes tak tepak-tepakno. Opo maneh nek masalah umbah-umbah. Klambi gek resik dikon ngumbah maneh, kemayu thok kok wong iku. Mosok klambi mari tak setriko dicacak thok, mari ngono dideleh kumbahan, dikon ngumbah maneh. Karo aku yo tak lempit maneh wae, Mbak. Padahal yo, Mbak, podo-podo wong Jowo wae lho. Wong semarang asline, gak pati sugeh yoan, ngono wae kemenyek-e gak karu-karuan. Saiki tak tinggal moleh, kapok ta gak wonge. Disangka’no gampang opo ngramut omahe," ceritone wong wedok mau.
(Majikanku cerewet banget, Mbak, yang sekarang. Yang perempuan sih, kalo yang laki-laki sebenarnya orang baik. Kalo aku masak katanya ada saja yang kurang. Padahal sudah saya bikin setepat-tepatnya. Apa lagi kalo masalah cucian. Baju masih bersih disuruh nyuci lagi. Belagu memang orang itu. Masak baju habis saya setrika cumin dicoba, lalu ditaruh di cucian, disuruh nyuci lagi. Sama aku ya tak lipat saja, Mbak. Padahal ya, Mbak, sama-sama orang Jawa saja lho. Aslinya orang Semarang, tidak begitu kaya juga, begitu saja belagunya tidak karu-karuan. Sekarang tak tinggal pulang, kapok apa gak tu orang. Dikiranya gampang apa ngrawat rumahnya. -red),” cerita Sang Perempuan.
Sebenarnya, dari seluruh cerita yang dituturkan, bagian mengenai bosnya itu yang paling saya suka. Dia tahu benar pentingnya pekerjaannya, ungkapannya tentang sesama Jawa, juga caranya mengerjai bos-nya. Lebih-lebih saya amat bersyukur tidak pernah mengalami yang namanya punya pembantu, dan tidak akan pernah. Ha ha ha….
Surabaya-Jember akan memakan waktu kurang lebih lima jam. Saya tidak berencana sama sekali menghabiskan lima jam saya dengan perempuan itu. Ceritanya menarik, tapi lama-lama saya bosan juga. Mana di mana wahai kursi kosong… mata saya mencari-cari. Beruntung sampai di probolinggo banyak penumpang turun. Tepat di depan, kursi ditinggal penumpang sama sekali. Tanpa pamit basa-basi (ra sopan tenan) saya angkat pantat dan pindah.
Aiiih… lega sekali, telinga saya akan beristirahat sejenak. Pemandanan di kiri kanan hijau, menyegarkan. Tapi, kelegaan saya tidak bertahan lama. Seorang Bapak naek, serta merasa kursi kosong di sebelah saya amat menawan. Sang Bapak hanya diam saja, sementara saya berpura-pura terkantuk-kantuk.
Tragedi…. Sungguh tragedi. Di awali dengan batuk kecil Sang Bapak. Lalu dalam gerakan lambat, Saya mendapati Sang Bapak menarik lengan jaketnya. Srooot…. Sroooot… Crooot….! Sang Bapak sukses memindah ingus dari hidung ke lengan jaketnya. Perasaan saya jadi tidak enak. Sebagai orang bergolongan darah A, saya mudah tertular penyakit, apalagi flu. Akan sangat menyiksa jika saya musti naek turun ke kawah Ijen sambil mengelap ingus. Nantinya, sesampai di Jember dan berpisah dengan Sang Bapak, saya menelan stimuno banyak-banyak. Sumpah saya sedang tak berselera untuk kena flu.
Di Jember, sedianya saya musti datang ke wisma di mana Kongres PPMI sedang berlangsung. Guna bertemu tiga orang cecunguk untuk kemudian ke Ijen bersama-sama. Namun, terlebih dahulu saya mesti tersesat. (Terimakasih buat mas-mas dari LPM Tegal Boto, Jember yang menyelamatkan saya di tengah ketersesatan, lupa saya namanya.)
Di wisma yang entah apa namanya, saya numpang menginap, juga pura-pura menyusun rencana perjalan ke Ijen. Ya, pura-pura, karena memang amat mustahil melakukan perencanaan dengan orang yang tidak mengenal kata ‘rencana’, ‘merencanakan’, dan ‘perencanaan’ dalam hidupnya.
Malam hari, Ayang Fakih mengajakku duduk berdampingan mesra, mengikuti Kongres Nasional PPMI. Seperti kebanyakan acara macam ini, kongres terasa menjemukan dan menyebalkan. Satu ayat dibahas sampai berjam-jam, debat kusir sana-sini. Pesertanya rata-rata jemu juga konsentrasi kurang dari separuh. Hal ini terbukti ketika di tengah Kongres saya hengkang dan berhasil merayu bapak penjaga wisma untuk berbagi air panas demi dua gelas Energen. Begitu kembali ke ruang Kongres, lebih dari separuh peserta memandangi saya, kasak-kusuk dengan air liur menetes-netes.
Bukan terpesona pada saya tentunya, tapi pada dua gelas Energen hangat di tangan saya. Aiih… padahal cuma dua gelas Energen hangat lho...
Rencana bohongan-nya, berempat kami akan mulai menyambung perjalanan ke Ijen pagi-pagi sekali. Akibat keliaran bibir Cahyo tidak terkendali dan terus-terusan menipu orang-orang yang entah dari LPM mana, juga menunggu Eka ‘Upil’menuntaskan urusan dengan tukang laundry, kami baru benar-benar berangkat pukul sepuluh.
Demi keselamatan perut, kami mampir sebentar membeli beberapa mi instan. Beruntung tampang rupawan Pras berhasil membius hati Ratih (anak Jember yang kebetulan adalah panitia Kongres), sehingga Ratih membekali sekotak roti yang amat lezat. Keluar dari Wisma yang entah apa namanya, ada angkot berhuruf A yang mengantarkan ke Terminal Arjasa. Dari Arjasa kami berganti bus menuju Bondowoso.
Fakta bahwa tidak seorang pun dari kami berempat pernah ke Ijen, benar-benar membawa sengsara. Hampir tiga jam kemudian, ketika sampai di Terminal Bondowoso, serentak kami berempat berpandangan dengan wajah penuh tanda tanya. “Turunnya di sini po?”
Cahyo berinisiatif mendatangi kondektur. Pak Supir bus pun turut campur melihat betapa blo’onnya wajah kami. “Ini Terminal Bondowoso, Mau ke mana Dhek?” Tanya Pak Supir Bus dengan kecepatan bicara yang hampir menyamai rekor smash Taufik Hidayat. Saya setel telinga dengan sebaik-baiknya, meskipun saya juga asli orang Jawa Timur, tapi orang Lamongan masih berbicara dengan lebih slow dan lembut.
Setelah Cahyo memaparkan niat kami yang hendak ke Ijen, Pak Supir Bus menerangkan fakta yang begitu menyesakkan. “Mobil angkutannya dah habis dhek kalo jam segini, terakhir jam sebelas kalo dari sini. Nanti turun di Gardu Atak saja, cari angkutan di sana,” ujar Pak Supir Bus.
Kami berempat kasak-kusuk, setengah tidak begitu bisa mengikuti apa yang dibicarakan Pak Supir Bus. Berkali-kali secara bergantian kami menanyakan di mana sebenarnya kami harus turun. Cara Pak Supir Bus mengucapkan ‘Gardu Atak’ terdengar sebagai ‘kaldukatak’ ditelinga saya, sebagai ‘Capduatang’ di telinga Pras dan lain lagi di telinga Cahyo dan Eka Upil. Pak Supir Bus yang salah mengira bahwa kami tidak mempercayai ucapannya, akhirnya berujar kesal, “Ya, kalau mau turun di sini terserah. Dah dikasih tahu juga,” kemudian disambung dengan bahasa Madura yang sama sekali tidak kami mengerti.
“Ya sudah, ngikut deh pak. Nanti kalau waktunya turun di kasih tahu ya Pak,” perkataan saya ditanggapi dengan anggukan kepala Pak Supir Bus. Sungguh terimakasih buat Pak Supir Bus yang pada akhirnya menurunkan kami di pertigaan Gardu Atak, setelah kami menambah ongkos dari Rp.3000 menjadi Rp4.500 per-orang. Memang sudah kewajibannya menurunkan kami di tempat yang benar, tapi kalo dia sedikit iseng kan berbahaya.
Gardu Atak sungguh sepi. Hanya ada sebiji Elf yang lagi entah niat berangkat entah tidak. Supirnya mendatangi kami, menawari untuk naik. Tawaran itu kami tolak mentah-mentah, seenaknya mematok harga sedemikian mahal dan akan menurunkan kami di tengah jalan, di Pasar Wonosari. Lha dari Wonosari kita di suruh ngesot apa...
Angkutan yang amat susah inilah yang kemudian saya tuding sebagai penyebab Ijen selalu lebih sepi ketimbang Bromo.
Di tengah penantian berbau cemas, datanglah sesosok laki-laki yang membuat kami selalu berubah-ubah dalam menilai dirinya. Bahkan, sampai sekarang masih sulit bagi saya memutuskan Mr. John itu baik atau jahat. Laki-laki itu mengenalkan diri sebagai Mr. John. Ditawarinya kami ikut mobilnya. Dipatoknya harga Rp.100.000 untuk sampai Sempol dan Rp130.000 untuk sampai Paltuding. Kami mulai berhitung dan berunding. Angkutan yang kami tunggu, sedianya akan memungut biaya Rp.25.000 per-orang untuk sampai ke Sempol. Tidak rugi menuruti Mr. John, tapi apa salahnya menawar.
Saya berada di muka, memelas minta Mr. John menurunkan harga, sekaligus minta diantarkan ke pos terakhir, Paltuding. Dari Sempol tidak ada angkutan lagi, alternatifnya naek ojek, jalan kaki, atau numpang truk yang kebetulan lewat. Padahal dari Sempol ke Paltuding berjarak sekitar 14 kilo meter.
Alot sungguh tawar-menawar dengan Mr. John. Apalagi dengan bodohnya saya memakai bahasa Jawa Kromo Halus yang rata-rata tidak dikuasai dengan baik oleh orang-orang daerah Bondowoso dan sekitarnya, termasuk Mr. John. Berharap Mr. John kasihan pun tampaknya sia-sia, saya, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ mungkin bisa saja bertampang memelas layaknya anak jalanan yang amat miskin. Tapi wajah tampan Pras sungguh terasa menyebalkan di saat-saat seperti ini.
Setelah beberapa lama, kami putuskan mengeluarkan jurus terakhir ala Pasar Beringharjo. Pura-pura tidak mau, padahal butuh, pake banget! Mr. John pun takluk, harga Rp110.000 sampai ke Paltuding, saya anggap sangat bagus. Meski agak dongkol juga, toh Mr. John dalam rangka mengangkut barang dagangan dan kami ini hanya bonus dadakan.
Kedongkolan masih tersisa di hati rekan-rekan saya karena hasrat untuk mendapatkan jasa sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya sesuai dengan prinsip ekonomi tidak terlaksana. Terbukti ketika membuka sekotak roti dari Ratih, mereka begitu jumawanya tak hendak menawari Mr. John. Tapi, saya pikir bukan hal menguntungkan itu. Setengah terpaksa Pras mengikuti anjuran saya untuk berbagi roti dengan Mr. John. Hal kecil inilah yang dalam perkiraan saya pada akhirnya mencairkan hubungan kami dengan Mr. John.
Obrolan kaku penuh basa-basi saya di awal perjalanan bersama Mr. John tampaknya membikin Pras agak lumer. Saya yang sudah tak tahu mesti berbasa-basi apa lagi di selamatkan oleh Pras yang tampaknya amat cepat bisa meniru logat berbicara Mr. John. Dengan setia Pras mendengarkan bualan-bualan Mr. John. Yah, sepengalaman saya, orang seumuran Mr. John selalu punya kelebihan untuk diceritakan pada orang-orang yang baru dikanalnya.
Tawaran tak terduga diajukan Mr. John. Menginap di rumahnya!
“Dingin dhek di sana, ke kawah baru besok pagi-pagi kan. Nginep saja di rumah saya. Kasihan saya ini melihat adhek-adhek nanti, mau tidur di mana. Besok pagi saya antar ke Paltuding. Jam dua pun saya antarkan kalo Adhek mau.” tawar Mr. John. Kami berempat serentak berpandangan.
Pras menjadi orang pertama yang tidak setuju, sisanya mengamini Pras. Tapi Mr. John terus saja melancarkan bujuk rayu menggiurkan. Eka ‘Upil’ tampak tergoda. Saya heran, kedua orang yang baru saya sebutkan tadi sesungguhnya pasangan atau musuh bebuyutan? Padahal saya dan Cahyo demikian adem ayem menjadi kubu yang ‘manut’ saja. Nginep di Paltuding oke, di rumah Mr. John juga boleh.
Sekitar dua jam, kami sampai di pos penjaga pertama. Pos penjagaan perkebunan kopi. Mr. John turun dan memberikan tiga bungkus mi instan pada penjaga yang membuka palang. “Ya, biasa untuk teman Dhek,” Mr. John menjelaskan tanpa kami tanya. Beberapa meter dari pos penjaga, kami dikejutkan lagi oleh Mr. John yang mendadak membelokkan mobil. Sebuah jalan kecil di apit rapat pohon kopi di kiri-kanan. Hanya pas untuk dilalui sebuah mobil, jejak ban mobil tampak tercetak dalam hanya berjarak beberapa depa dari pohon kopi.
Dalam hati saya bertanya-tanya, ke mana Mr. John membawa kami...?
Gerimis turun sejak dini hari, penggenap kemacetan jalan raya yang sempurna. Saya sempat hawatir, beberapa hari sebelumnya, kondisi cuaca seperti ini plus letupan lumpur baru yang amat dekat dengan badan jalan raya melumpuhkan jalur Porong.
Saya coba meredam kehawatiran dengan membaginya pada Cahyo lewat sms. Amat cepat Cahyo membalas, saya amat bersyukur mendapati fakta bahwa Cahyo mampu memindahkan kecanggihan bibir ke jempol ketika ber-sms. “Lha piye, sido ndene ra?” balas Cahyo. “Tak usahain,” kata saya.
Menyadari konsekuensi dari ‘Tak usahain’, saya berberes. Listrik di kamar dah mati semua, tabung gas pesanan Pras masuk ransel, beberapa batang coklat masuk ransel pula. Sleping bag? Hm… saya singkirkan. Pras menyuruh saya membawa sleping bag lebih jika ada, itu tandanya kemungkinan besar Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ tidak membawa sama sekali. Saya tak mau egois dong, jangan-jangan nanti saya amat nyaman dengan sleping bag, mereka kedinginan dan melirik saya dengan dengki. Auuu…
Gerimis sudah tak berbekas ketika saya sampai di Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih. Segera saya menuju peron, membayar Rp200 perak. Peron terminal ini selalu membuat saya menaruh simpati jika membandingkannya dengan Peron Terminal Tirtonadi, Solo. Jelas-jelas di karcis tertulis Rp.200, kok ya petugasnya ngeyel minta Rp.500. Saya tidak pernah dikasih kembalian ketika menyodorkan uang Rp.500. Jika saya sodorkan Rp.200 perak saja, petugasnya menggeram minta lebih. Cih, hal menyebalkan yang saya ingat akan Solo.
Dari Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih, saya naik bus menuju Jember. Tanpa menunggu lama bus segera berangkat. Di sebelah tempat duduk saya ada seorang perempuan. Saya taksir umurnya kira-kira antara 40-45 tahun. Setelah pandang-pandang dan senyum-senyum sedikit perempuan di sebelah saya membuka obrolan. Khas obrolan penumpang bus, orang-orang selalu melupakan etika berkenalan: menanyakan nama. Basa-basi mengenai tujuan selalu jadi pertanyaan awal yang diajukan.
Selesai dengan basa-basi biasa, perempuan disebelah saya tiba-tiba menjelma menjadi orang yang jago bercerita. Sementara saya jadi pendengar setia. Kalau saya rangkum, ceritanya akan jadi seperti ini:
Di masa lampau, Sang Perempuan mengadu nasib ke Malaysia. Sebagai TKI legal, beruntung dia menemukan majikan yang baik. Kerja selama kurang-lebih tujuh jam di sebuah restoran dengan gaji yang memuaskan. Sebagian gaji disisihkannya, sebagian lagi dikirim pulang pada kedua orang tuanya di Lumajang. Rupa-rupanya Sang Perempuan ini selain berbakti pada orang tua, juga mengidap penyakit bernama homesick. “Masiyo wes tuwo ngene iki, aku yo kangen terus karo omah, karo simbok-bapak lho mbak,” ujar sang Perempuan.
Nah, sebab makin lama homesick yang diidapnya makin parah, dia memutuskan pulang ke Indonesia. Berucap selamat tinggal selamanya pada Negeri Jiran. Sungguh anak yang berbakti ya…
Perjalanan kali ini pun ditempuh olehnya guna mengobati homesick yang diidapnya. Sang Perempuan yang sekarang bekerja sebagai pegawai urusan kerumah-tanggaan, sukses merayu bosnya agar mengijinkan pulang ke Lumajang dua bulan sekali. Khusus mengenai bosnya di Surabaya ini, Sang perempuan meluangkan waktu lebih banyak untuk bercerita pada saya.
“Majikanku cerewet pol, Mbak, seng saiki. Seng wedok, nek seng lanang asline wong-e apik. Nek aku masak ono wae seng kurang jarene. Padahal yo wes tak tepak-tepakno. Opo maneh nek masalah umbah-umbah. Klambi gek resik dikon ngumbah maneh, kemayu thok kok wong iku. Mosok klambi mari tak setriko dicacak thok, mari ngono dideleh kumbahan, dikon ngumbah maneh. Karo aku yo tak lempit maneh wae, Mbak. Padahal yo, Mbak, podo-podo wong Jowo wae lho. Wong semarang asline, gak pati sugeh yoan, ngono wae kemenyek-e gak karu-karuan. Saiki tak tinggal moleh, kapok ta gak wonge. Disangka’no gampang opo ngramut omahe," ceritone wong wedok mau.
(Majikanku cerewet banget, Mbak, yang sekarang. Yang perempuan sih, kalo yang laki-laki sebenarnya orang baik. Kalo aku masak katanya ada saja yang kurang. Padahal sudah saya bikin setepat-tepatnya. Apa lagi kalo masalah cucian. Baju masih bersih disuruh nyuci lagi. Belagu memang orang itu. Masak baju habis saya setrika cumin dicoba, lalu ditaruh di cucian, disuruh nyuci lagi. Sama aku ya tak lipat saja, Mbak. Padahal ya, Mbak, sama-sama orang Jawa saja lho. Aslinya orang Semarang, tidak begitu kaya juga, begitu saja belagunya tidak karu-karuan. Sekarang tak tinggal pulang, kapok apa gak tu orang. Dikiranya gampang apa ngrawat rumahnya. -red),” cerita Sang Perempuan.
Sebenarnya, dari seluruh cerita yang dituturkan, bagian mengenai bosnya itu yang paling saya suka. Dia tahu benar pentingnya pekerjaannya, ungkapannya tentang sesama Jawa, juga caranya mengerjai bos-nya. Lebih-lebih saya amat bersyukur tidak pernah mengalami yang namanya punya pembantu, dan tidak akan pernah. Ha ha ha….
Surabaya-Jember akan memakan waktu kurang lebih lima jam. Saya tidak berencana sama sekali menghabiskan lima jam saya dengan perempuan itu. Ceritanya menarik, tapi lama-lama saya bosan juga. Mana di mana wahai kursi kosong… mata saya mencari-cari. Beruntung sampai di probolinggo banyak penumpang turun. Tepat di depan, kursi ditinggal penumpang sama sekali. Tanpa pamit basa-basi (ra sopan tenan) saya angkat pantat dan pindah.
Aiiih… lega sekali, telinga saya akan beristirahat sejenak. Pemandanan di kiri kanan hijau, menyegarkan. Tapi, kelegaan saya tidak bertahan lama. Seorang Bapak naek, serta merasa kursi kosong di sebelah saya amat menawan. Sang Bapak hanya diam saja, sementara saya berpura-pura terkantuk-kantuk.
Tragedi…. Sungguh tragedi. Di awali dengan batuk kecil Sang Bapak. Lalu dalam gerakan lambat, Saya mendapati Sang Bapak menarik lengan jaketnya. Srooot…. Sroooot… Crooot….! Sang Bapak sukses memindah ingus dari hidung ke lengan jaketnya. Perasaan saya jadi tidak enak. Sebagai orang bergolongan darah A, saya mudah tertular penyakit, apalagi flu. Akan sangat menyiksa jika saya musti naek turun ke kawah Ijen sambil mengelap ingus. Nantinya, sesampai di Jember dan berpisah dengan Sang Bapak, saya menelan stimuno banyak-banyak. Sumpah saya sedang tak berselera untuk kena flu.
Di Jember, sedianya saya musti datang ke wisma di mana Kongres PPMI sedang berlangsung. Guna bertemu tiga orang cecunguk untuk kemudian ke Ijen bersama-sama. Namun, terlebih dahulu saya mesti tersesat. (Terimakasih buat mas-mas dari LPM Tegal Boto, Jember yang menyelamatkan saya di tengah ketersesatan, lupa saya namanya.)
Di wisma yang entah apa namanya, saya numpang menginap, juga pura-pura menyusun rencana perjalan ke Ijen. Ya, pura-pura, karena memang amat mustahil melakukan perencanaan dengan orang yang tidak mengenal kata ‘rencana’, ‘merencanakan’, dan ‘perencanaan’ dalam hidupnya.
Malam hari, Ayang Fakih mengajakku duduk berdampingan mesra, mengikuti Kongres Nasional PPMI. Seperti kebanyakan acara macam ini, kongres terasa menjemukan dan menyebalkan. Satu ayat dibahas sampai berjam-jam, debat kusir sana-sini. Pesertanya rata-rata jemu juga konsentrasi kurang dari separuh. Hal ini terbukti ketika di tengah Kongres saya hengkang dan berhasil merayu bapak penjaga wisma untuk berbagi air panas demi dua gelas Energen. Begitu kembali ke ruang Kongres, lebih dari separuh peserta memandangi saya, kasak-kusuk dengan air liur menetes-netes.
Bukan terpesona pada saya tentunya, tapi pada dua gelas Energen hangat di tangan saya. Aiih… padahal cuma dua gelas Energen hangat lho...
Rencana bohongan-nya, berempat kami akan mulai menyambung perjalanan ke Ijen pagi-pagi sekali. Akibat keliaran bibir Cahyo tidak terkendali dan terus-terusan menipu orang-orang yang entah dari LPM mana, juga menunggu Eka ‘Upil’menuntaskan urusan dengan tukang laundry, kami baru benar-benar berangkat pukul sepuluh.
Demi keselamatan perut, kami mampir sebentar membeli beberapa mi instan. Beruntung tampang rupawan Pras berhasil membius hati Ratih (anak Jember yang kebetulan adalah panitia Kongres), sehingga Ratih membekali sekotak roti yang amat lezat. Keluar dari Wisma yang entah apa namanya, ada angkot berhuruf A yang mengantarkan ke Terminal Arjasa. Dari Arjasa kami berganti bus menuju Bondowoso.
Fakta bahwa tidak seorang pun dari kami berempat pernah ke Ijen, benar-benar membawa sengsara. Hampir tiga jam kemudian, ketika sampai di Terminal Bondowoso, serentak kami berempat berpandangan dengan wajah penuh tanda tanya. “Turunnya di sini po?”
Cahyo berinisiatif mendatangi kondektur. Pak Supir bus pun turut campur melihat betapa blo’onnya wajah kami. “Ini Terminal Bondowoso, Mau ke mana Dhek?” Tanya Pak Supir Bus dengan kecepatan bicara yang hampir menyamai rekor smash Taufik Hidayat. Saya setel telinga dengan sebaik-baiknya, meskipun saya juga asli orang Jawa Timur, tapi orang Lamongan masih berbicara dengan lebih slow dan lembut.
Setelah Cahyo memaparkan niat kami yang hendak ke Ijen, Pak Supir Bus menerangkan fakta yang begitu menyesakkan. “Mobil angkutannya dah habis dhek kalo jam segini, terakhir jam sebelas kalo dari sini. Nanti turun di Gardu Atak saja, cari angkutan di sana,” ujar Pak Supir Bus.
Kami berempat kasak-kusuk, setengah tidak begitu bisa mengikuti apa yang dibicarakan Pak Supir Bus. Berkali-kali secara bergantian kami menanyakan di mana sebenarnya kami harus turun. Cara Pak Supir Bus mengucapkan ‘Gardu Atak’ terdengar sebagai ‘kaldukatak’ ditelinga saya, sebagai ‘Capduatang’ di telinga Pras dan lain lagi di telinga Cahyo dan Eka Upil. Pak Supir Bus yang salah mengira bahwa kami tidak mempercayai ucapannya, akhirnya berujar kesal, “Ya, kalau mau turun di sini terserah. Dah dikasih tahu juga,” kemudian disambung dengan bahasa Madura yang sama sekali tidak kami mengerti.
“Ya sudah, ngikut deh pak. Nanti kalau waktunya turun di kasih tahu ya Pak,” perkataan saya ditanggapi dengan anggukan kepala Pak Supir Bus. Sungguh terimakasih buat Pak Supir Bus yang pada akhirnya menurunkan kami di pertigaan Gardu Atak, setelah kami menambah ongkos dari Rp.3000 menjadi Rp4.500 per-orang. Memang sudah kewajibannya menurunkan kami di tempat yang benar, tapi kalo dia sedikit iseng kan berbahaya.
Gardu Atak sungguh sepi. Hanya ada sebiji Elf yang lagi entah niat berangkat entah tidak. Supirnya mendatangi kami, menawari untuk naik. Tawaran itu kami tolak mentah-mentah, seenaknya mematok harga sedemikian mahal dan akan menurunkan kami di tengah jalan, di Pasar Wonosari. Lha dari Wonosari kita di suruh ngesot apa...
Angkutan yang amat susah inilah yang kemudian saya tuding sebagai penyebab Ijen selalu lebih sepi ketimbang Bromo.
Di tengah penantian berbau cemas, datanglah sesosok laki-laki yang membuat kami selalu berubah-ubah dalam menilai dirinya. Bahkan, sampai sekarang masih sulit bagi saya memutuskan Mr. John itu baik atau jahat. Laki-laki itu mengenalkan diri sebagai Mr. John. Ditawarinya kami ikut mobilnya. Dipatoknya harga Rp.100.000 untuk sampai Sempol dan Rp130.000 untuk sampai Paltuding. Kami mulai berhitung dan berunding. Angkutan yang kami tunggu, sedianya akan memungut biaya Rp.25.000 per-orang untuk sampai ke Sempol. Tidak rugi menuruti Mr. John, tapi apa salahnya menawar.
Saya berada di muka, memelas minta Mr. John menurunkan harga, sekaligus minta diantarkan ke pos terakhir, Paltuding. Dari Sempol tidak ada angkutan lagi, alternatifnya naek ojek, jalan kaki, atau numpang truk yang kebetulan lewat. Padahal dari Sempol ke Paltuding berjarak sekitar 14 kilo meter.
Alot sungguh tawar-menawar dengan Mr. John. Apalagi dengan bodohnya saya memakai bahasa Jawa Kromo Halus yang rata-rata tidak dikuasai dengan baik oleh orang-orang daerah Bondowoso dan sekitarnya, termasuk Mr. John. Berharap Mr. John kasihan pun tampaknya sia-sia, saya, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ mungkin bisa saja bertampang memelas layaknya anak jalanan yang amat miskin. Tapi wajah tampan Pras sungguh terasa menyebalkan di saat-saat seperti ini.
Setelah beberapa lama, kami putuskan mengeluarkan jurus terakhir ala Pasar Beringharjo. Pura-pura tidak mau, padahal butuh, pake banget! Mr. John pun takluk, harga Rp110.000 sampai ke Paltuding, saya anggap sangat bagus. Meski agak dongkol juga, toh Mr. John dalam rangka mengangkut barang dagangan dan kami ini hanya bonus dadakan.
Kedongkolan masih tersisa di hati rekan-rekan saya karena hasrat untuk mendapatkan jasa sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya sesuai dengan prinsip ekonomi tidak terlaksana. Terbukti ketika membuka sekotak roti dari Ratih, mereka begitu jumawanya tak hendak menawari Mr. John. Tapi, saya pikir bukan hal menguntungkan itu. Setengah terpaksa Pras mengikuti anjuran saya untuk berbagi roti dengan Mr. John. Hal kecil inilah yang dalam perkiraan saya pada akhirnya mencairkan hubungan kami dengan Mr. John.
Obrolan kaku penuh basa-basi saya di awal perjalanan bersama Mr. John tampaknya membikin Pras agak lumer. Saya yang sudah tak tahu mesti berbasa-basi apa lagi di selamatkan oleh Pras yang tampaknya amat cepat bisa meniru logat berbicara Mr. John. Dengan setia Pras mendengarkan bualan-bualan Mr. John. Yah, sepengalaman saya, orang seumuran Mr. John selalu punya kelebihan untuk diceritakan pada orang-orang yang baru dikanalnya.
Tawaran tak terduga diajukan Mr. John. Menginap di rumahnya!
“Dingin dhek di sana, ke kawah baru besok pagi-pagi kan. Nginep saja di rumah saya. Kasihan saya ini melihat adhek-adhek nanti, mau tidur di mana. Besok pagi saya antar ke Paltuding. Jam dua pun saya antarkan kalo Adhek mau.” tawar Mr. John. Kami berempat serentak berpandangan.
Pras menjadi orang pertama yang tidak setuju, sisanya mengamini Pras. Tapi Mr. John terus saja melancarkan bujuk rayu menggiurkan. Eka ‘Upil’ tampak tergoda. Saya heran, kedua orang yang baru saya sebutkan tadi sesungguhnya pasangan atau musuh bebuyutan? Padahal saya dan Cahyo demikian adem ayem menjadi kubu yang ‘manut’ saja. Nginep di Paltuding oke, di rumah Mr. John juga boleh.
Sekitar dua jam, kami sampai di pos penjaga pertama. Pos penjagaan perkebunan kopi. Mr. John turun dan memberikan tiga bungkus mi instan pada penjaga yang membuka palang. “Ya, biasa untuk teman Dhek,” Mr. John menjelaskan tanpa kami tanya. Beberapa meter dari pos penjaga, kami dikejutkan lagi oleh Mr. John yang mendadak membelokkan mobil. Sebuah jalan kecil di apit rapat pohon kopi di kiri-kanan. Hanya pas untuk dilalui sebuah mobil, jejak ban mobil tampak tercetak dalam hanya berjarak beberapa depa dari pohon kopi.
Dalam hati saya bertanya-tanya, ke mana Mr. John membawa kami...?
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar