Selasa, 01 Juni 2010

Menuju Ijen part III (Kampung Malang Asoy)

Ternyata eh ternyata, Mr. John membawa kami mampir ke rumahnya. Dia hendak ke kantor kebun kopi terlebih dahulu sembari memberi kami waktu untuk berfikir akan tawarannya. Selepas dari kantor kebun kopi yang entah berada di mana, Mr. John akan menaati segala keputusan kami.

Kampung Malang, sebuah plang kecil dari papan bercat biru menjelaskan kampung di mana rumah Mr. John bercokol. Tata letak kampung ini sebenarnya rapi seandainya tekstur tanah tidak bergelombang. Rumah-rumah berukuran mungil berderet dengan dinding saling menyatu. Seragam dengan plang papan nama, dinding luar rumah dicat biru keseluruhannya. Kertas ukuran 3x6 senti meter bertuliskan nama penghuni rumah tertempel rapi di atas pintu, layaknya jimat pengusir hantu.

Jujur, saya merasa janggal dengan kertas-kertas itu. Kebijakan dari pengelola perkebunan, demikian terang Mr. John ketika saya bertanya. Rumah serta tanah yang dihuni sekitar dua ratus kepala keluarga di kampung Malang memang kepunyaan pengelola kebun kopi. Para penghuni yang semuanya merupakan pekerja di perkebunan kopi, selamanya tidak bisa mempunyai hak milik.

Beranak-pinak puluhan tahun di tempat itu pun, tak serta merta membikin mereka memiliki tempat tinggal secara utuh. Saya jadi miris memikirkannya. Saya berandai-andai, jika pihak perkebunan kopi hendak menyulap kampung itu jadi hotel, tempat wisata, atau semacamnya, entah bagaimana nasib mereka. Bisa jadi juga satu waktu, perkebunan kopi sudah tak memerlukan lagi tenaga mereka, pihak perkebunan kopi tinggal bilang: “Yo minggato kono emboh nang ndi!” (Persis ucapan kepala satpol PP Bantul ketika menggusur Parangtritis.)

Ketika Mr. John meninggalkan kami di ruang tamu rumahnya, Mrs. John membawakan sejumlah bantal, teh hangat dan setoples permen. Kami menanggapi Mrs. John dengan penuh basa-basi bercampur malu-malu memalukan. Sementara Eka ‘Upil’ kebelet sholat, saya kebelet pipis. Berempat kami menuju masjid, letaknya hanya berjarak empat rumah dari rumah Mr. John. Naas nian nasib saya, tidak ada kamar mandi di masjid.

Nantinya, ketika menemukan kamar mandi umum untuk pipis, saya menemukan pengalaman yang sungguh spektakuler. Tepatnya, seperti syuting film horror. Masing-masing rumah di Kampung Malang tidak dilengkapi dengan kamar mandi, enam bilik kamar mandi umum sedianya digunakan untuk dua ratus kepala keluarga. Tidak ada lampu satu watt pun yang terpasang, saya dibekali Mrs.John dengan senter. Air dalam kamar mandi ditampung dalam tong besi setinggi orang dewasa, penuh karat di sana-sini. Kamar mandi yang saya masuki—sepertinya kamar mandi lain pun serupa—memiliki wc jongkok berwarna kecoklatan, entah dulu apa warna aslinya. Saya tambah ngeri melihat lobang besar pada fondasi yang menyangga wc jongkok tersebut. Kalau ambrol pas lagi beol kan gak lucu.

Meski kamar mandi umum yang mereka miliki amat mengenaskan, kehidupan warga Kampung Malang tergolong makmur alias berkantong tebal. Kalaupun rumah dan kamar mandi mereka amat sederhana, lebih karena paten bikinan pihak perkebunan. Haram hukumnya di otak-atik. Ambil saja contoh Mr. John, betapa dia amat malu dengan telepon genggam yang di milikinya. Padahal telepon genggam Mr. John tiga kali lipat lebih bagus dari telepon genggam saya maupun Pras (Sebenarnya kepunyaan Pras lebih tepat disebut sebagai senter dengan bonus fitur sms dan telepon). Konon, sebelumnya Mr. John punya telepon genggam N73, juga Blackberry.

Saya tergoda untuk murtad duduk-duduk di beranda masjid bersama Cahyo, sedangkan Eka ‘Upil’ dan Pras sholat. Tanah di mana masjid itu berdiri merupakan bagian tertinggi di Kampung Malang. Ijen terlihat jelas di sebelah timur kampung berdiri dengan agkuhnya, kian menggoda. Di sebelah barat, tepat di belakang masjid, ada sebuah bukit anonim yang tampak tak terjamah manusia.

Berduaan dengan saya, Cahyo tergoda untuk melancarkan bujuk-rayu agar saya dan dia masuk blok ‘Eka Upil’: Menginap di rumah Mr. John. “Kita kan bisa berinteraksi dengan masyarakat dan tahun kehidupan mereka. Itu yang mahal harganya.” Saya senyum-senyum mengiyakan perkataan Cahyo, meski menyangsikan kebenarannya. Beberapa saat nanti kesangsian saya ternyata terbukti benar.

Kembali ke rumah Mr. John, belum ada kesepakatan terucap, hendak menginap di rumah Mr. John atau di Paltuding. Cahyo sudah asyik masyuk dengan bantal. Sesekali diangkat pantatnya untuk mengeluarkan kentut. Khas Cahyo. Selain bibir liarnya, pantat cahyo memang tiada bandingannya. Seandainya dia memerankan tokoh Gie, tentu dia tak perlu bersusah-payah belajar berjalan ngepot layaknya Nicolas Saputra.

Adzan maghrib, Mr. John belum juga kembali. Entah sebab lapar atau akibat puji-pujian yang mengalun lewat speaker masjid, Pras menggila. Naluri ke-NU-annya bangkit, amat bersemangat turut melantunkan puji-pujian dengan amat keras. Saya dan Eka ‘Upil’ sepakat memutuskan bahwa penyebabnya adalah kelaparan akut. Saya mendesak untuk memasak beberapa bungkus mi instan.

Eka ‘Upil’ berinisiatif meminta air pada Mrs. John. Pras dan saya menyiapkan kompor gas mini di beranda rumah. Cahyo…? Di mana Cahyo…? Matanya sudah berhenti terbuka, meski pantatnya masih terus-terusan mengeluarkan gas.

Mrs. John menawari Eka Upil kompor gas di dapurnya. Lebih praktis, begitu pertimbangan Mrs. John. Tapi, keberhasilan Pras merakit dan menyalakan kompor gas mini membuat harga dirinya melambung. Dengan halus tawaran Mrs. John ditolak. Angin di daerah semacam Kampung Malang makin kencang bertiup menjelang malam. Nesting sudah cukup panas, namun air belum lagi hangat ketika angin dengan sukses melumpuhkan kompor gas mini ala Pras. Ibu-ibu tetangga yang sedari awal memperhatikan Pras mulai beranjak dari masing-masing ambang pintu rumahnya, mengerubungi Pras. Dalam bahasa Madura mereka mulai berkata yang artinya kira-kira seperti ini: “Ganteng dhek, neng kok goblok yo….”

Tawaran Mrs. John ternyata masih berlaku. Eka ‘Upil’ pandai sekali memanfaatkan kesempatan. Ketika saya dan Eka Upil telah sukses merebus mi instan di dapur Mrs. John, Ibu-ibu tetangga masih mengerubuti Pras dengan gumaman-gumamannya.

Di sudut dapur Mrs. John sebuah meja kecil menantang dengan sebakul nasi. Seakan-akan tahu kondisi kelaparan akut yang menimpa kami, Mrs. John menawarkannya. Lagi-lagi kami berusaha menolak halus. Mrs. John sudah meninggalkan dapur ketika Eka ‘Upil’ mendekati bakul nasi. Dengan kepercayaan diri tingkat tinggi dia berujar, “Orang sini aneh ya. Masak nasi aja gosong-gosong gini.” Kudekatkan mataku pada bakul nasi itu, lampu lima watt mengganggu pandanganku. “Mana Pil yang gosong?” tanyaku. Jari telunjuk Eka ‘Upil’ menunjuk bintik-bintik kecil kekuningan yang bertaburan rata di sekitar nasi. Oalah mak… ternyata tu bocah seumur-umur baru sekali ini lihat yang namanya nasi jagung. Nantinya, ketika Mrs. John menyodorkan lagi sebakul nasi jagung, Eka ‘Upil’ menjadi oknum yang paling banyak menghabiskannya. Maklum saja, pengalaman pertama melihat sekaligus makan nasi jagung.

Mr. John baru kembali ke rumah pukul sembilan. Terlanjur nyaman, diam-diam kami sepakat menginap, kemudian mengikat janji dengan Mr. John agar mengantar ke Paltuding pukul 2 pagi. Pengalaman pahit di Bromo membuat Eka ‘Upil’ waspada. Sumpah serapah dikeluarkannya terlebih dahulu pada Cahyo dan Pras sebelum dua cecunguk itu tidur.

Cahyo sama sekali lupa dengan ikrar suci yang telepas dari bibir liarnya tatkala berduaan dengan saya di beranda masjid. Dia dan Pras tidur begitu awal. Eka ‘Upil’ lah yang akhirnya melakukan niatan Cahyo. Berdalih nimbrung nonton Cinta Fitri, dia intim dengan keluarga Mr. John. Bertanya macam-macam hal dan Mr. John pun menjawab dengan senang hati. Saya mendengarkan obrolan Eka ‘Upil’ dengan Mr. John sekeluarga sambil rebahan. Sulit sekali bagi saya tidur di tempat asing.

Saya baru tidur sekitar satu jam ketika Pras amat gaduh membangunkan Cahyo. Saya lirik jam tangan, pukul dua, kami harus bergegas. Lima belas menit kemudian kami siap berangkat, tapi di mana gerangan Mr. John? Saya intip bilik kamarnya, cuma ada Mrs. John meringkuk sendirian. Saat itu, senter Pras yang punya fitur sms amat menolong. Telepon genggam saya dan Cahyo sudah lama tewas. Maklum, tanpa Telkomshit jangan berharap telepon genggam anda berfungsi.

Jam dinding penjaga Pos Paltuding menunjukkan pukul empat ketika saya dan Cahyo mengisi buku daftar pengunjung dan membayar Rp.3.500 per-kepala. Menurut penjaga pos, perjalanan dari Paltuding-Kawah Ijen sekitar satu setengah sampai dua jam. Kami berjalan dengan santai, sesekali Eka ‘Upil’ berhenti sejenak untuk mendamaikan perutnya yang mulai protes minta diisi. Bersamaan dengan kami, serombongan anak SMP dari Banyuwangi yang sangat menyebalkan juga gurunya yang tak kalah menyebalkan juga naik.

Perkara menyebalkannya rombongan tadi bisa dijelaskan dengan tiga hal. Pertama, anak-anak SMP itu seringkali lalai tidak memberi jalan pada pengangkut belerang yang lewat. Tentu saja hal ini juga berimbas pada kami yang berjalan tak jauh dari mereka. Pengangkut belerang jadi amat kasar dan berteriak-teriak, padahal kami dengan sopannya selalu memberi jalan.

Kedua, anak-anak SMP itu entah karena kami berempat keren atau gimana, senang sekali mereka mengarahkan senter ke muka kami. Berkali-kali meneriaki mereka ternyata tak ada gunanya. Mata minus saya sungguh berkunang-kunang sehabis kena senter anak-anak bedebah itu. Ketiga, alasan yang sangat pribadi bagi saya. Guru anak-anak SMP itu selalu menirukan nafas ngos-ngosan saya ketika berpapasan dengannya. Detik itu, saya berjanji pada diri saya akan berhenti merokok. Nantinya seusai dari Ijen saya benar-benar lupa pernah mengucapkan janji itu.

Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design

0 komentar: