Selasa, 22 Juni 2010
Setelah peristiwa pertengkaran akibat kondangan, hubungan saya dengan Ai jadi lebih mesra. Saya jadi merasa tidak sia-sia berairmata bombay waktu itu. Meskipun demikian, saya toh tetap tidak bisa menyukai yang namanya kondangan. Sebatas tidak suka, bukan membenci. Bisa-bisa hati saya penuh dengan kebencian di bulan-bulan ini, kan sekarang lagi musim kawin (dah kayak kucing aja ada musimnya).
Kira-kira jam setengah enam pagi, Ria Amelia dengan SMS-nya melengking-dayu (dangdut seh) membuat saya bangun tidur dengan terpaksa. Dalam perkiraan saya, ibu-ibu tetangga sedang kumat isengnya sehingga mendadak menggelar senam massal.
Pura-pura memanasi motor di depan kamar, saya intip tetangga sebelah lewat pagar. Berharap benar ada sekumpulan ibu-ibu melenggak-lenggokkan badan. Aih... saya kecelik. Cuma ada tiga biji lelaki berdiri di samping sepasang sound system gede. Siang hari saya baru paham betul bahwa tetangga sebelah rupanya sedang punya hajat. Mantenan.
Jadilah sepanjang hari itu lagu dangdut menggema senatero gang. Saya memilih memutar lagu-lagu reggae campur ska untuk menyainginya. Urusan tante kos sekeluarga yang musti cari sumbat telinga akibat polusi bunyi campuran antara dangdut+reggae+ska, saya tidak mau ambil pusing.
Pulang kerja Ai mampir. Tumben bisa ngajak bercanda dari sebuah acara pernikahan. Biasanya hasrat mengajak bertengkar Ai akan tersulut oleh acara macam itu.
"Ada mantenan ya?"
"Iya tuh."
"Wih... dangdutan, tak pegangin ya jempolnya biar gak ikutan goyang."
"Mestinya bekap ni mulut, gatel aja pengen ikutan nyanyi."
Tawaran untuk membekap mulut rupanya ditanggapi dengan serius oleh Ai. Ah, dasar aja tu bojoku mesum dari lahir. Tapi saya juga tidak menolak kok dicium singkat ma dia, he he he....
"Eh, nyanyiin dong. Lagu dangdut yang biasanya sayang nyanyi itu lho." Saya sontak membebaskan diri dari pelukan Ai. Hah? lagu dangdut yang biasa saya nyanyikan?
"Alah, sok-sok an gitu. Biasanya juga dangdutan." Hem... sebegitu seringkah saya bernyanyi lagu dangdut buat dia? Seingat saya cuman sepenggal-sepenggal. Tiap kali Ai hendak pulang saya bernyanyi sepenggal, "Jangan tinggalkan aku... kumohon kepadamu" Tiap kali teleponan sebelum tidur saya bernyanyi sepenggal lagu, "Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu..."
Gak sering-sering amat kan?!
Jadi baiklah saya mengaku bahwa memang tujuan saya nyaingin dangdutan dadakan di rumah sebelah dengan reggae dan ska adalah demi menghindari latah pada bibir saya. Ini hari saya punya jadwal reggae dan ska. Jadwal buat dangdutan masih beberapa hari lagi, setelah Jazz, Hiphop Jawa, dan Bosanova. Saya cuma menghindari kekacauan dalam jadwal mendengarkan musik.
Di tengah perjuangan amat dahsyat untuk bersetia pada reggae dan ska, Ai malah jadi setan penggoda. Ah! Tak paham dia. Fakta bahwa saya terlebih dahulu mengenal dangdut ketimbang genre musik lainnya jadi hal yang amat berpengaruh.
Dahulu kala, semasa saya masih kecil, usai menunaikan sholat subuh ritual selanjutnya adalah menuju dapur. Jika sampai saat ini saya hanya bisa masak mi instant dan telor ceplok, itu karena saya ke dapur bukan buat belajar masak, melainkan icip-icip.
Saya punya ibu rupanya gemar sekali memasak sembari melantunkan tembang-tembang dangdut. Mulai dari lagunya Ida Laila, Kamelia Malik, Iis Dahlia, Elvi sukaesih, ibu saya hapal sepenuhnya. Trio Macan belum ada waktu itu.
Nah, kalau saya jadi hapal lagu-lagu dangdut jaman baheula kemudian jadi fasih menyanyikannya lumrah bukan?
Kalaupun pada akhirnya saya agak jengkel dengan dangdut, tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan total si Raja Dangdut Rhoma Irama.
Semasa saya SD, Si Rhoma itu pernah bikin saya gagal meraih nilai 100 buat pelajaran PMP.
Pasalnya, saya lebih percaya lirik lagu Si Rhoma ketimbang guru SD saya. Ngotot saya isikan 'Bhineka Tunggal IKa' untuk menjawab pertanyaan 'Apa lambang negara Indonesia?'
Coba deh simak lirik lagu Si Rhoma yang judulnya 135.000.000 Masak Si Rhoma dengan pede nyanyi gini, "Bhineka tunggal ika lambang negara kita Indonesia..." Lah... ketipu saya!
Sumpah saudara-saudara, jangan pernah memperdengarkan lagu itu pada anak SD.
Kira-kira jam setengah enam pagi, Ria Amelia dengan SMS-nya melengking-dayu (dangdut seh) membuat saya bangun tidur dengan terpaksa. Dalam perkiraan saya, ibu-ibu tetangga sedang kumat isengnya sehingga mendadak menggelar senam massal.
Pura-pura memanasi motor di depan kamar, saya intip tetangga sebelah lewat pagar. Berharap benar ada sekumpulan ibu-ibu melenggak-lenggokkan badan. Aih... saya kecelik. Cuma ada tiga biji lelaki berdiri di samping sepasang sound system gede. Siang hari saya baru paham betul bahwa tetangga sebelah rupanya sedang punya hajat. Mantenan.
Jadilah sepanjang hari itu lagu dangdut menggema senatero gang. Saya memilih memutar lagu-lagu reggae campur ska untuk menyainginya. Urusan tante kos sekeluarga yang musti cari sumbat telinga akibat polusi bunyi campuran antara dangdut+reggae+ska, saya tidak mau ambil pusing.
Pulang kerja Ai mampir. Tumben bisa ngajak bercanda dari sebuah acara pernikahan. Biasanya hasrat mengajak bertengkar Ai akan tersulut oleh acara macam itu.
"Ada mantenan ya?"
"Iya tuh."
"Wih... dangdutan, tak pegangin ya jempolnya biar gak ikutan goyang."
"Mestinya bekap ni mulut, gatel aja pengen ikutan nyanyi."
Tawaran untuk membekap mulut rupanya ditanggapi dengan serius oleh Ai. Ah, dasar aja tu bojoku mesum dari lahir. Tapi saya juga tidak menolak kok dicium singkat ma dia, he he he....
"Eh, nyanyiin dong. Lagu dangdut yang biasanya sayang nyanyi itu lho." Saya sontak membebaskan diri dari pelukan Ai. Hah? lagu dangdut yang biasa saya nyanyikan?
"Alah, sok-sok an gitu. Biasanya juga dangdutan." Hem... sebegitu seringkah saya bernyanyi lagu dangdut buat dia? Seingat saya cuman sepenggal-sepenggal. Tiap kali Ai hendak pulang saya bernyanyi sepenggal, "Jangan tinggalkan aku... kumohon kepadamu" Tiap kali teleponan sebelum tidur saya bernyanyi sepenggal lagu, "Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu..."
Gak sering-sering amat kan?!
Jadi baiklah saya mengaku bahwa memang tujuan saya nyaingin dangdutan dadakan di rumah sebelah dengan reggae dan ska adalah demi menghindari latah pada bibir saya. Ini hari saya punya jadwal reggae dan ska. Jadwal buat dangdutan masih beberapa hari lagi, setelah Jazz, Hiphop Jawa, dan Bosanova. Saya cuma menghindari kekacauan dalam jadwal mendengarkan musik.
Di tengah perjuangan amat dahsyat untuk bersetia pada reggae dan ska, Ai malah jadi setan penggoda. Ah! Tak paham dia. Fakta bahwa saya terlebih dahulu mengenal dangdut ketimbang genre musik lainnya jadi hal yang amat berpengaruh.
Dahulu kala, semasa saya masih kecil, usai menunaikan sholat subuh ritual selanjutnya adalah menuju dapur. Jika sampai saat ini saya hanya bisa masak mi instant dan telor ceplok, itu karena saya ke dapur bukan buat belajar masak, melainkan icip-icip.
Saya punya ibu rupanya gemar sekali memasak sembari melantunkan tembang-tembang dangdut. Mulai dari lagunya Ida Laila, Kamelia Malik, Iis Dahlia, Elvi sukaesih, ibu saya hapal sepenuhnya. Trio Macan belum ada waktu itu.
Nah, kalau saya jadi hapal lagu-lagu dangdut jaman baheula kemudian jadi fasih menyanyikannya lumrah bukan?
Kalaupun pada akhirnya saya agak jengkel dengan dangdut, tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan total si Raja Dangdut Rhoma Irama.
Semasa saya SD, Si Rhoma itu pernah bikin saya gagal meraih nilai 100 buat pelajaran PMP.
Pasalnya, saya lebih percaya lirik lagu Si Rhoma ketimbang guru SD saya. Ngotot saya isikan 'Bhineka Tunggal IKa' untuk menjawab pertanyaan 'Apa lambang negara Indonesia?'
Coba deh simak lirik lagu Si Rhoma yang judulnya 135.000.000 Masak Si Rhoma dengan pede nyanyi gini, "Bhineka tunggal ika lambang negara kita Indonesia..." Lah... ketipu saya!
Sumpah saudara-saudara, jangan pernah memperdengarkan lagu itu pada anak SD.
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Senin, 07 Juni 2010
"Sebuah undangan pernikahan membikin kita bertengkar. Kepalaku berdenyar hebat, ini bukan tentang undangan pernikahan. Tapi, pertengkaran-pertengkaran remeh-temeh yang pada akhirnya menjelma bergunung-gunung batu."
Saya benar-benar sedang tidak berselera untuk bertengkar. Jelas sekali saya katakan sedang tidak berselera, meski saya pun tidak benar-benar paham kapan saya berselera untuk bertengkar. Tapi, sesekali saya demikian bersemangat menyulut pertengkaran kecil dengan Ai. Yah... semacam proyek kecil-kecilan belajar hal bernama 'managemen konflik.' Hem... tapi tidak menutup kemungkinan hal terakhir yang saya sebutkan tadi hanya alasan yang dicari-cari. Hah!"Selingkuhlah Ai... Please."
"Sama siapa?"
"Siapa saja, kan Ai tinggal milih."
"Please deh, Beib."
Saya tidak main-main menyuruh Ai selingkuh. Berulangkali permintaan agar Ai selingkuh saya lontarkan. Saya rasa Ai juga tahu kalau saya tidak main-main.
"Aku orang yang sederhana Beib. Sudahlah, tidak usah macam-macam. Perempuan seumuran aku sudah capek bermain-main."
"Ya, selingkuh beneran. Bukan selingkuh-selingkuhan. Lagian nih ai, konon banyak tu perempuan yang lebih tua dari Ai selingkuh ma brondong-brondong."
"Aku dah punya brondong, tanpa diulang lho ya. Cuma satu!"
"Iya, tapi kan..."
"Beib, please. Tolong pijit bahuku Beib, seharian ngerjain pajak kok pegel banget rasanya."
Selalu seperti itu. Perbincangan selalu dikandaskan dengan sengaja oleh Ai. Bab perselingkuh jadi pijit-pijitan. Bab perselingkuh jadi dua cangkir kopi. Bab perselingkuhan jadi bahan bercandaan. Tapi saya bilang sekali lagi, saya tidak bercanda menyuruh Ai selingkuh. Lagi pula amat mungkin perselingkuhan dua manusia berawal dari tertawa, dua cangkir kopi, pun pijit-pijitan.
Jangan sebut saya gila hanya karena meminta kekasih saya selingkuh. Sementara di luar sana para feminis kian getol menyusun tafsir-tafsir baru demi mengenyakhan yang namanya poligami (poliandri juga ya mustinya, ha ha ha). Pun situs-situs homosexual yang menyerukan bahwa satu pasangan cukup.
Saya tidak gila, justru saya merasa amat waras. Atau katakanlah saya sedang berusaha merasa waras dengan menyuruh Ai selingkuh.
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Selasa, 01 Juni 2010
Pengangku Belerang. Bersikaplah sopan pada mereka dan selalu beri jalan.
Sebelum turunan menuju kawah, sungguh memanjakan mata.
Pipa-pipa jumbo, sup belerang dialirkan lewat pipa besi. Ketika belerang membeku, para penambang belerang secara manual akan mengangkutnya.
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Ternyata eh ternyata, Mr. John membawa kami mampir ke rumahnya. Dia hendak ke kantor kebun kopi terlebih dahulu sembari memberi kami waktu untuk berfikir akan tawarannya. Selepas dari kantor kebun kopi yang entah berada di mana, Mr. John akan menaati segala keputusan kami.
Jujur, saya merasa janggal dengan kertas-kertas itu. Kebijakan dari pengelola perkebunan, demikian terang Mr. John ketika saya bertanya. Rumah serta tanah yang dihuni sekitar dua ratus kepala keluarga di kampung Malang memang kepunyaan pengelola kebun kopi. Para penghuni yang semuanya merupakan pekerja di perkebunan kopi, selamanya tidak bisa mempunyai hak milik.
Beranak-pinak puluhan tahun di tempat itu pun, tak serta merta membikin mereka memiliki tempat tinggal secara utuh. Saya jadi miris memikirkannya. Saya berandai-andai, jika pihak perkebunan kopi hendak menyulap kampung itu jadi hotel, tempat wisata, atau semacamnya, entah bagaimana nasib mereka. Bisa jadi juga satu waktu, perkebunan kopi sudah tak memerlukan lagi tenaga mereka, pihak perkebunan kopi tinggal bilang: “Yo minggato kono emboh nang ndi!” (Persis ucapan kepala satpol PP Bantul ketika menggusur Parangtritis.)
Ketika Mr. John meninggalkan kami di ruang tamu rumahnya, Mrs. John membawakan sejumlah bantal, teh hangat dan setoples permen. Kami menanggapi Mrs. John dengan penuh basa-basi bercampur malu-malu memalukan. Sementara Eka ‘Upil’ kebelet sholat, saya kebelet pipis. Berempat kami menuju masjid, letaknya hanya berjarak empat rumah dari rumah Mr. John. Naas nian nasib saya, tidak ada kamar mandi di masjid.
Nantinya, ketika menemukan kamar mandi umum untuk pipis, saya menemukan pengalaman yang sungguh spektakuler. Tepatnya, seperti syuting film horror. Masing-masing rumah di Kampung Malang tidak dilengkapi dengan kamar mandi, enam bilik kamar mandi umum sedianya digunakan untuk dua ratus kepala keluarga. Tidak ada lampu satu watt pun yang terpasang, saya dibekali Mrs.John dengan senter. Air dalam kamar mandi ditampung dalam tong besi setinggi orang dewasa, penuh karat di sana-sini. Kamar mandi yang saya masuki—sepertinya kamar mandi lain pun serupa—memiliki wc jongkok berwarna kecoklatan, entah dulu apa warna aslinya. Saya tambah ngeri melihat lobang besar pada fondasi yang menyangga wc jongkok tersebut. Kalau ambrol pas lagi beol kan gak lucu.
Meski kamar mandi umum yang mereka miliki amat mengenaskan, kehidupan warga Kampung Malang tergolong makmur alias berkantong tebal. Kalaupun rumah dan kamar mandi mereka amat sederhana, lebih karena paten bikinan pihak perkebunan. Haram hukumnya di otak-atik. Ambil saja contoh Mr. John, betapa dia amat malu dengan telepon genggam yang di milikinya. Padahal telepon genggam Mr. John tiga kali lipat lebih bagus dari telepon genggam saya maupun Pras (Sebenarnya kepunyaan Pras lebih tepat disebut sebagai senter dengan bonus fitur sms dan telepon). Konon, sebelumnya Mr. John punya telepon genggam N73, juga Blackberry.
Saya tergoda untuk murtad duduk-duduk di beranda masjid bersama Cahyo, sedangkan Eka ‘Upil’ dan Pras sholat. Tanah di mana masjid itu berdiri merupakan bagian tertinggi di Kampung Malang. Ijen terlihat jelas di sebelah timur kampung berdiri dengan agkuhnya, kian menggoda. Di sebelah barat, tepat di belakang masjid, ada sebuah bukit anonim yang tampak tak terjamah manusia.
Berduaan dengan saya, Cahyo tergoda untuk melancarkan bujuk-rayu agar saya dan dia masuk blok ‘Eka Upil’: Menginap di rumah Mr. John. “Kita kan bisa berinteraksi dengan masyarakat dan tahun kehidupan mereka. Itu yang mahal harganya.” Saya senyum-senyum mengiyakan perkataan Cahyo, meski menyangsikan kebenarannya. Beberapa saat nanti kesangsian saya ternyata terbukti benar.
Kembali ke rumah Mr. John, belum ada kesepakatan terucap, hendak menginap di rumah Mr. John atau di Paltuding. Cahyo sudah asyik masyuk dengan bantal. Sesekali diangkat pantatnya untuk mengeluarkan kentut. Khas Cahyo. Selain bibir liarnya, pantat cahyo memang tiada bandingannya. Seandainya dia memerankan tokoh Gie, tentu dia tak perlu bersusah-payah belajar berjalan ngepot layaknya Nicolas Saputra.
Adzan maghrib, Mr. John belum juga kembali. Entah sebab lapar atau akibat puji-pujian yang mengalun lewat speaker masjid, Pras menggila. Naluri ke-NU-annya bangkit, amat bersemangat turut melantunkan puji-pujian dengan amat keras. Saya dan Eka ‘Upil’ sepakat memutuskan bahwa penyebabnya adalah kelaparan akut. Saya mendesak untuk memasak beberapa bungkus mi instan.
Eka ‘Upil’ berinisiatif meminta air pada Mrs. John. Pras dan saya menyiapkan kompor gas mini di beranda rumah. Cahyo…? Di mana Cahyo…? Matanya sudah berhenti terbuka, meski pantatnya masih terus-terusan mengeluarkan gas.
Mrs. John menawari Eka Upil kompor gas di dapurnya. Lebih praktis, begitu pertimbangan Mrs. John. Tapi, keberhasilan Pras merakit dan menyalakan kompor gas mini membuat harga dirinya melambung. Dengan halus tawaran Mrs. John ditolak. Angin di daerah semacam Kampung Malang makin kencang bertiup menjelang malam. Nesting sudah cukup panas, namun air belum lagi hangat ketika angin dengan sukses melumpuhkan kompor gas mini ala Pras. Ibu-ibu tetangga yang sedari awal memperhatikan Pras mulai beranjak dari masing-masing ambang pintu rumahnya, mengerubungi Pras. Dalam bahasa Madura mereka mulai berkata yang artinya kira-kira seperti ini: “Ganteng dhek, neng kok goblok yo….”
Tawaran Mrs. John ternyata masih berlaku. Eka ‘Upil’ pandai sekali memanfaatkan kesempatan. Ketika saya dan Eka Upil telah sukses merebus mi instan di dapur Mrs. John, Ibu-ibu tetangga masih mengerubuti Pras dengan gumaman-gumamannya.
Di sudut dapur Mrs. John sebuah meja kecil menantang dengan sebakul nasi. Seakan-akan tahu kondisi kelaparan akut yang menimpa kami, Mrs. John menawarkannya. Lagi-lagi kami berusaha menolak halus. Mrs. John sudah meninggalkan dapur ketika Eka ‘Upil’ mendekati bakul nasi. Dengan kepercayaan diri tingkat tinggi dia berujar, “Orang sini aneh ya. Masak nasi aja gosong-gosong gini.” Kudekatkan mataku pada bakul nasi itu, lampu lima watt mengganggu pandanganku. “Mana Pil yang gosong?” tanyaku. Jari telunjuk Eka ‘Upil’ menunjuk bintik-bintik kecil kekuningan yang bertaburan rata di sekitar nasi. Oalah mak… ternyata tu bocah seumur-umur baru sekali ini lihat yang namanya nasi jagung. Nantinya, ketika Mrs. John menyodorkan lagi sebakul nasi jagung, Eka ‘Upil’ menjadi oknum yang paling banyak menghabiskannya. Maklum saja, pengalaman pertama melihat sekaligus makan nasi jagung.
Mr. John baru kembali ke rumah pukul sembilan. Terlanjur nyaman, diam-diam kami sepakat menginap, kemudian mengikat janji dengan Mr. John agar mengantar ke Paltuding pukul 2 pagi. Pengalaman pahit di Bromo membuat Eka ‘Upil’ waspada. Sumpah serapah dikeluarkannya terlebih dahulu pada Cahyo dan Pras sebelum dua cecunguk itu tidur.
Cahyo sama sekali lupa dengan ikrar suci yang telepas dari bibir liarnya tatkala berduaan dengan saya di beranda masjid. Dia dan Pras tidur begitu awal. Eka ‘Upil’ lah yang akhirnya melakukan niatan Cahyo. Berdalih nimbrung nonton Cinta Fitri, dia intim dengan keluarga Mr. John. Bertanya macam-macam hal dan Mr. John pun menjawab dengan senang hati. Saya mendengarkan obrolan Eka ‘Upil’ dengan Mr. John sekeluarga sambil rebahan. Sulit sekali bagi saya tidur di tempat asing.
Saya baru tidur sekitar satu jam ketika Pras amat gaduh membangunkan Cahyo. Saya lirik jam tangan, pukul dua, kami harus bergegas. Lima belas menit kemudian kami siap berangkat, tapi di mana gerangan Mr. John? Saya intip bilik kamarnya, cuma ada Mrs. John meringkuk sendirian. Saat itu, senter Pras yang punya fitur sms amat menolong. Telepon genggam saya dan Cahyo sudah lama tewas. Maklum, tanpa Telkomshit jangan berharap telepon genggam anda berfungsi.
Jam dinding penjaga Pos Paltuding menunjukkan pukul empat ketika saya dan Cahyo mengisi buku daftar pengunjung dan membayar Rp.3.500 per-kepala. Menurut penjaga pos, perjalanan dari Paltuding-Kawah Ijen sekitar satu setengah sampai dua jam. Kami berjalan dengan santai, sesekali Eka ‘Upil’ berhenti sejenak untuk mendamaikan perutnya yang mulai protes minta diisi. Bersamaan dengan kami, serombongan anak SMP dari Banyuwangi yang sangat menyebalkan juga gurunya yang tak kalah menyebalkan juga naik.
Perkara menyebalkannya rombongan tadi bisa dijelaskan dengan tiga hal. Pertama, anak-anak SMP itu seringkali lalai tidak memberi jalan pada pengangkut belerang yang lewat. Tentu saja hal ini juga berimbas pada kami yang berjalan tak jauh dari mereka. Pengangkut belerang jadi amat kasar dan berteriak-teriak, padahal kami dengan sopannya selalu memberi jalan.
Kedua, anak-anak SMP itu entah karena kami berempat keren atau gimana, senang sekali mereka mengarahkan senter ke muka kami. Berkali-kali meneriaki mereka ternyata tak ada gunanya. Mata minus saya sungguh berkunang-kunang sehabis kena senter anak-anak bedebah itu. Ketiga, alasan yang sangat pribadi bagi saya. Guru anak-anak SMP itu selalu menirukan nafas ngos-ngosan saya ketika berpapasan dengannya. Detik itu, saya berjanji pada diri saya akan berhenti merokok. Nantinya seusai dari Ijen saya benar-benar lupa pernah mengucapkan janji itu.
Kampung Malang, sebuah plang kecil dari papan bercat biru menjelaskan kampung di mana rumah Mr. John bercokol. Tata letak kampung ini sebenarnya rapi seandainya tekstur tanah tidak bergelombang. Rumah-rumah berukuran mungil berderet dengan dinding saling menyatu. Seragam dengan plang papan nama, dinding luar rumah dicat biru keseluruhannya. Kertas ukuran 3x6 senti meter bertuliskan nama penghuni rumah tertempel rapi di atas pintu, layaknya jimat pengusir hantu.
Jujur, saya merasa janggal dengan kertas-kertas itu. Kebijakan dari pengelola perkebunan, demikian terang Mr. John ketika saya bertanya. Rumah serta tanah yang dihuni sekitar dua ratus kepala keluarga di kampung Malang memang kepunyaan pengelola kebun kopi. Para penghuni yang semuanya merupakan pekerja di perkebunan kopi, selamanya tidak bisa mempunyai hak milik.
Beranak-pinak puluhan tahun di tempat itu pun, tak serta merta membikin mereka memiliki tempat tinggal secara utuh. Saya jadi miris memikirkannya. Saya berandai-andai, jika pihak perkebunan kopi hendak menyulap kampung itu jadi hotel, tempat wisata, atau semacamnya, entah bagaimana nasib mereka. Bisa jadi juga satu waktu, perkebunan kopi sudah tak memerlukan lagi tenaga mereka, pihak perkebunan kopi tinggal bilang: “Yo minggato kono emboh nang ndi!” (Persis ucapan kepala satpol PP Bantul ketika menggusur Parangtritis.)
Ketika Mr. John meninggalkan kami di ruang tamu rumahnya, Mrs. John membawakan sejumlah bantal, teh hangat dan setoples permen. Kami menanggapi Mrs. John dengan penuh basa-basi bercampur malu-malu memalukan. Sementara Eka ‘Upil’ kebelet sholat, saya kebelet pipis. Berempat kami menuju masjid, letaknya hanya berjarak empat rumah dari rumah Mr. John. Naas nian nasib saya, tidak ada kamar mandi di masjid.
Nantinya, ketika menemukan kamar mandi umum untuk pipis, saya menemukan pengalaman yang sungguh spektakuler. Tepatnya, seperti syuting film horror. Masing-masing rumah di Kampung Malang tidak dilengkapi dengan kamar mandi, enam bilik kamar mandi umum sedianya digunakan untuk dua ratus kepala keluarga. Tidak ada lampu satu watt pun yang terpasang, saya dibekali Mrs.John dengan senter. Air dalam kamar mandi ditampung dalam tong besi setinggi orang dewasa, penuh karat di sana-sini. Kamar mandi yang saya masuki—sepertinya kamar mandi lain pun serupa—memiliki wc jongkok berwarna kecoklatan, entah dulu apa warna aslinya. Saya tambah ngeri melihat lobang besar pada fondasi yang menyangga wc jongkok tersebut. Kalau ambrol pas lagi beol kan gak lucu.
Meski kamar mandi umum yang mereka miliki amat mengenaskan, kehidupan warga Kampung Malang tergolong makmur alias berkantong tebal. Kalaupun rumah dan kamar mandi mereka amat sederhana, lebih karena paten bikinan pihak perkebunan. Haram hukumnya di otak-atik. Ambil saja contoh Mr. John, betapa dia amat malu dengan telepon genggam yang di milikinya. Padahal telepon genggam Mr. John tiga kali lipat lebih bagus dari telepon genggam saya maupun Pras (Sebenarnya kepunyaan Pras lebih tepat disebut sebagai senter dengan bonus fitur sms dan telepon). Konon, sebelumnya Mr. John punya telepon genggam N73, juga Blackberry.
Saya tergoda untuk murtad duduk-duduk di beranda masjid bersama Cahyo, sedangkan Eka ‘Upil’ dan Pras sholat. Tanah di mana masjid itu berdiri merupakan bagian tertinggi di Kampung Malang. Ijen terlihat jelas di sebelah timur kampung berdiri dengan agkuhnya, kian menggoda. Di sebelah barat, tepat di belakang masjid, ada sebuah bukit anonim yang tampak tak terjamah manusia.
Berduaan dengan saya, Cahyo tergoda untuk melancarkan bujuk-rayu agar saya dan dia masuk blok ‘Eka Upil’: Menginap di rumah Mr. John. “Kita kan bisa berinteraksi dengan masyarakat dan tahun kehidupan mereka. Itu yang mahal harganya.” Saya senyum-senyum mengiyakan perkataan Cahyo, meski menyangsikan kebenarannya. Beberapa saat nanti kesangsian saya ternyata terbukti benar.
Kembali ke rumah Mr. John, belum ada kesepakatan terucap, hendak menginap di rumah Mr. John atau di Paltuding. Cahyo sudah asyik masyuk dengan bantal. Sesekali diangkat pantatnya untuk mengeluarkan kentut. Khas Cahyo. Selain bibir liarnya, pantat cahyo memang tiada bandingannya. Seandainya dia memerankan tokoh Gie, tentu dia tak perlu bersusah-payah belajar berjalan ngepot layaknya Nicolas Saputra.
Adzan maghrib, Mr. John belum juga kembali. Entah sebab lapar atau akibat puji-pujian yang mengalun lewat speaker masjid, Pras menggila. Naluri ke-NU-annya bangkit, amat bersemangat turut melantunkan puji-pujian dengan amat keras. Saya dan Eka ‘Upil’ sepakat memutuskan bahwa penyebabnya adalah kelaparan akut. Saya mendesak untuk memasak beberapa bungkus mi instan.
Eka ‘Upil’ berinisiatif meminta air pada Mrs. John. Pras dan saya menyiapkan kompor gas mini di beranda rumah. Cahyo…? Di mana Cahyo…? Matanya sudah berhenti terbuka, meski pantatnya masih terus-terusan mengeluarkan gas.
Mrs. John menawari Eka Upil kompor gas di dapurnya. Lebih praktis, begitu pertimbangan Mrs. John. Tapi, keberhasilan Pras merakit dan menyalakan kompor gas mini membuat harga dirinya melambung. Dengan halus tawaran Mrs. John ditolak. Angin di daerah semacam Kampung Malang makin kencang bertiup menjelang malam. Nesting sudah cukup panas, namun air belum lagi hangat ketika angin dengan sukses melumpuhkan kompor gas mini ala Pras. Ibu-ibu tetangga yang sedari awal memperhatikan Pras mulai beranjak dari masing-masing ambang pintu rumahnya, mengerubungi Pras. Dalam bahasa Madura mereka mulai berkata yang artinya kira-kira seperti ini: “Ganteng dhek, neng kok goblok yo….”
Tawaran Mrs. John ternyata masih berlaku. Eka ‘Upil’ pandai sekali memanfaatkan kesempatan. Ketika saya dan Eka Upil telah sukses merebus mi instan di dapur Mrs. John, Ibu-ibu tetangga masih mengerubuti Pras dengan gumaman-gumamannya.
Di sudut dapur Mrs. John sebuah meja kecil menantang dengan sebakul nasi. Seakan-akan tahu kondisi kelaparan akut yang menimpa kami, Mrs. John menawarkannya. Lagi-lagi kami berusaha menolak halus. Mrs. John sudah meninggalkan dapur ketika Eka ‘Upil’ mendekati bakul nasi. Dengan kepercayaan diri tingkat tinggi dia berujar, “Orang sini aneh ya. Masak nasi aja gosong-gosong gini.” Kudekatkan mataku pada bakul nasi itu, lampu lima watt mengganggu pandanganku. “Mana Pil yang gosong?” tanyaku. Jari telunjuk Eka ‘Upil’ menunjuk bintik-bintik kecil kekuningan yang bertaburan rata di sekitar nasi. Oalah mak… ternyata tu bocah seumur-umur baru sekali ini lihat yang namanya nasi jagung. Nantinya, ketika Mrs. John menyodorkan lagi sebakul nasi jagung, Eka ‘Upil’ menjadi oknum yang paling banyak menghabiskannya. Maklum saja, pengalaman pertama melihat sekaligus makan nasi jagung.
Mr. John baru kembali ke rumah pukul sembilan. Terlanjur nyaman, diam-diam kami sepakat menginap, kemudian mengikat janji dengan Mr. John agar mengantar ke Paltuding pukul 2 pagi. Pengalaman pahit di Bromo membuat Eka ‘Upil’ waspada. Sumpah serapah dikeluarkannya terlebih dahulu pada Cahyo dan Pras sebelum dua cecunguk itu tidur.
Cahyo sama sekali lupa dengan ikrar suci yang telepas dari bibir liarnya tatkala berduaan dengan saya di beranda masjid. Dia dan Pras tidur begitu awal. Eka ‘Upil’ lah yang akhirnya melakukan niatan Cahyo. Berdalih nimbrung nonton Cinta Fitri, dia intim dengan keluarga Mr. John. Bertanya macam-macam hal dan Mr. John pun menjawab dengan senang hati. Saya mendengarkan obrolan Eka ‘Upil’ dengan Mr. John sekeluarga sambil rebahan. Sulit sekali bagi saya tidur di tempat asing.
Saya baru tidur sekitar satu jam ketika Pras amat gaduh membangunkan Cahyo. Saya lirik jam tangan, pukul dua, kami harus bergegas. Lima belas menit kemudian kami siap berangkat, tapi di mana gerangan Mr. John? Saya intip bilik kamarnya, cuma ada Mrs. John meringkuk sendirian. Saat itu, senter Pras yang punya fitur sms amat menolong. Telepon genggam saya dan Cahyo sudah lama tewas. Maklum, tanpa Telkomshit jangan berharap telepon genggam anda berfungsi.
Jam dinding penjaga Pos Paltuding menunjukkan pukul empat ketika saya dan Cahyo mengisi buku daftar pengunjung dan membayar Rp.3.500 per-kepala. Menurut penjaga pos, perjalanan dari Paltuding-Kawah Ijen sekitar satu setengah sampai dua jam. Kami berjalan dengan santai, sesekali Eka ‘Upil’ berhenti sejenak untuk mendamaikan perutnya yang mulai protes minta diisi. Bersamaan dengan kami, serombongan anak SMP dari Banyuwangi yang sangat menyebalkan juga gurunya yang tak kalah menyebalkan juga naik.
Perkara menyebalkannya rombongan tadi bisa dijelaskan dengan tiga hal. Pertama, anak-anak SMP itu seringkali lalai tidak memberi jalan pada pengangkut belerang yang lewat. Tentu saja hal ini juga berimbas pada kami yang berjalan tak jauh dari mereka. Pengangkut belerang jadi amat kasar dan berteriak-teriak, padahal kami dengan sopannya selalu memberi jalan.
Kedua, anak-anak SMP itu entah karena kami berempat keren atau gimana, senang sekali mereka mengarahkan senter ke muka kami. Berkali-kali meneriaki mereka ternyata tak ada gunanya. Mata minus saya sungguh berkunang-kunang sehabis kena senter anak-anak bedebah itu. Ketiga, alasan yang sangat pribadi bagi saya. Guru anak-anak SMP itu selalu menirukan nafas ngos-ngosan saya ketika berpapasan dengannya. Detik itu, saya berjanji pada diri saya akan berhenti merokok. Nantinya seusai dari Ijen saya benar-benar lupa pernah mengucapkan janji itu.
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Senin, 3 Mei 2010.
Gerimis turun sejak dini hari, penggenap kemacetan jalan raya yang sempurna. Saya sempat hawatir, beberapa hari sebelumnya, kondisi cuaca seperti ini plus letupan lumpur baru yang amat dekat dengan badan jalan raya melumpuhkan jalur Porong.
Saya coba meredam kehawatiran dengan membaginya pada Cahyo lewat sms. Amat cepat Cahyo membalas, saya amat bersyukur mendapati fakta bahwa Cahyo mampu memindahkan kecanggihan bibir ke jempol ketika ber-sms. “Lha piye, sido ndene ra?” balas Cahyo. “Tak usahain,” kata saya.
Menyadari konsekuensi dari ‘Tak usahain’, saya berberes. Listrik di kamar dah mati semua, tabung gas pesanan Pras masuk ransel, beberapa batang coklat masuk ransel pula. Sleping bag? Hm… saya singkirkan. Pras menyuruh saya membawa sleping bag lebih jika ada, itu tandanya kemungkinan besar Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ tidak membawa sama sekali. Saya tak mau egois dong, jangan-jangan nanti saya amat nyaman dengan sleping bag, mereka kedinginan dan melirik saya dengan dengki. Auuu…
Gerimis sudah tak berbekas ketika saya sampai di Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih. Segera saya menuju peron, membayar Rp200 perak. Peron terminal ini selalu membuat saya menaruh simpati jika membandingkannya dengan Peron Terminal Tirtonadi, Solo. Jelas-jelas di karcis tertulis Rp.200, kok ya petugasnya ngeyel minta Rp.500. Saya tidak pernah dikasih kembalian ketika menyodorkan uang Rp.500. Jika saya sodorkan Rp.200 perak saja, petugasnya menggeram minta lebih. Cih, hal menyebalkan yang saya ingat akan Solo.
Dari Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih, saya naik bus menuju Jember. Tanpa menunggu lama bus segera berangkat. Di sebelah tempat duduk saya ada seorang perempuan. Saya taksir umurnya kira-kira antara 40-45 tahun. Setelah pandang-pandang dan senyum-senyum sedikit perempuan di sebelah saya membuka obrolan. Khas obrolan penumpang bus, orang-orang selalu melupakan etika berkenalan: menanyakan nama. Basa-basi mengenai tujuan selalu jadi pertanyaan awal yang diajukan.
Selesai dengan basa-basi biasa, perempuan disebelah saya tiba-tiba menjelma menjadi orang yang jago bercerita. Sementara saya jadi pendengar setia. Kalau saya rangkum, ceritanya akan jadi seperti ini:
Di masa lampau, Sang Perempuan mengadu nasib ke Malaysia. Sebagai TKI legal, beruntung dia menemukan majikan yang baik. Kerja selama kurang-lebih tujuh jam di sebuah restoran dengan gaji yang memuaskan. Sebagian gaji disisihkannya, sebagian lagi dikirim pulang pada kedua orang tuanya di Lumajang. Rupa-rupanya Sang Perempuan ini selain berbakti pada orang tua, juga mengidap penyakit bernama homesick. “Masiyo wes tuwo ngene iki, aku yo kangen terus karo omah, karo simbok-bapak lho mbak,” ujar sang Perempuan.
Nah, sebab makin lama homesick yang diidapnya makin parah, dia memutuskan pulang ke Indonesia. Berucap selamat tinggal selamanya pada Negeri Jiran. Sungguh anak yang berbakti ya…
Perjalanan kali ini pun ditempuh olehnya guna mengobati homesick yang diidapnya. Sang Perempuan yang sekarang bekerja sebagai pegawai urusan kerumah-tanggaan, sukses merayu bosnya agar mengijinkan pulang ke Lumajang dua bulan sekali. Khusus mengenai bosnya di Surabaya ini, Sang perempuan meluangkan waktu lebih banyak untuk bercerita pada saya.
“Majikanku cerewet pol, Mbak, seng saiki. Seng wedok, nek seng lanang asline wong-e apik. Nek aku masak ono wae seng kurang jarene. Padahal yo wes tak tepak-tepakno. Opo maneh nek masalah umbah-umbah. Klambi gek resik dikon ngumbah maneh, kemayu thok kok wong iku. Mosok klambi mari tak setriko dicacak thok, mari ngono dideleh kumbahan, dikon ngumbah maneh. Karo aku yo tak lempit maneh wae, Mbak. Padahal yo, Mbak, podo-podo wong Jowo wae lho. Wong semarang asline, gak pati sugeh yoan, ngono wae kemenyek-e gak karu-karuan. Saiki tak tinggal moleh, kapok ta gak wonge. Disangka’no gampang opo ngramut omahe," ceritone wong wedok mau.
(Majikanku cerewet banget, Mbak, yang sekarang. Yang perempuan sih, kalo yang laki-laki sebenarnya orang baik. Kalo aku masak katanya ada saja yang kurang. Padahal sudah saya bikin setepat-tepatnya. Apa lagi kalo masalah cucian. Baju masih bersih disuruh nyuci lagi. Belagu memang orang itu. Masak baju habis saya setrika cumin dicoba, lalu ditaruh di cucian, disuruh nyuci lagi. Sama aku ya tak lipat saja, Mbak. Padahal ya, Mbak, sama-sama orang Jawa saja lho. Aslinya orang Semarang, tidak begitu kaya juga, begitu saja belagunya tidak karu-karuan. Sekarang tak tinggal pulang, kapok apa gak tu orang. Dikiranya gampang apa ngrawat rumahnya. -red),” cerita Sang Perempuan.
Sebenarnya, dari seluruh cerita yang dituturkan, bagian mengenai bosnya itu yang paling saya suka. Dia tahu benar pentingnya pekerjaannya, ungkapannya tentang sesama Jawa, juga caranya mengerjai bos-nya. Lebih-lebih saya amat bersyukur tidak pernah mengalami yang namanya punya pembantu, dan tidak akan pernah. Ha ha ha….
Surabaya-Jember akan memakan waktu kurang lebih lima jam. Saya tidak berencana sama sekali menghabiskan lima jam saya dengan perempuan itu. Ceritanya menarik, tapi lama-lama saya bosan juga. Mana di mana wahai kursi kosong… mata saya mencari-cari. Beruntung sampai di probolinggo banyak penumpang turun. Tepat di depan, kursi ditinggal penumpang sama sekali. Tanpa pamit basa-basi (ra sopan tenan) saya angkat pantat dan pindah.
Aiiih… lega sekali, telinga saya akan beristirahat sejenak. Pemandanan di kiri kanan hijau, menyegarkan. Tapi, kelegaan saya tidak bertahan lama. Seorang Bapak naek, serta merasa kursi kosong di sebelah saya amat menawan. Sang Bapak hanya diam saja, sementara saya berpura-pura terkantuk-kantuk.
Tragedi…. Sungguh tragedi. Di awali dengan batuk kecil Sang Bapak. Lalu dalam gerakan lambat, Saya mendapati Sang Bapak menarik lengan jaketnya. Srooot…. Sroooot… Crooot….! Sang Bapak sukses memindah ingus dari hidung ke lengan jaketnya. Perasaan saya jadi tidak enak. Sebagai orang bergolongan darah A, saya mudah tertular penyakit, apalagi flu. Akan sangat menyiksa jika saya musti naek turun ke kawah Ijen sambil mengelap ingus. Nantinya, sesampai di Jember dan berpisah dengan Sang Bapak, saya menelan stimuno banyak-banyak. Sumpah saya sedang tak berselera untuk kena flu.
Di Jember, sedianya saya musti datang ke wisma di mana Kongres PPMI sedang berlangsung. Guna bertemu tiga orang cecunguk untuk kemudian ke Ijen bersama-sama. Namun, terlebih dahulu saya mesti tersesat. (Terimakasih buat mas-mas dari LPM Tegal Boto, Jember yang menyelamatkan saya di tengah ketersesatan, lupa saya namanya.)
Di wisma yang entah apa namanya, saya numpang menginap, juga pura-pura menyusun rencana perjalan ke Ijen. Ya, pura-pura, karena memang amat mustahil melakukan perencanaan dengan orang yang tidak mengenal kata ‘rencana’, ‘merencanakan’, dan ‘perencanaan’ dalam hidupnya.
Malam hari, Ayang Fakih mengajakku duduk berdampingan mesra, mengikuti Kongres Nasional PPMI. Seperti kebanyakan acara macam ini, kongres terasa menjemukan dan menyebalkan. Satu ayat dibahas sampai berjam-jam, debat kusir sana-sini. Pesertanya rata-rata jemu juga konsentrasi kurang dari separuh. Hal ini terbukti ketika di tengah Kongres saya hengkang dan berhasil merayu bapak penjaga wisma untuk berbagi air panas demi dua gelas Energen. Begitu kembali ke ruang Kongres, lebih dari separuh peserta memandangi saya, kasak-kusuk dengan air liur menetes-netes.
Bukan terpesona pada saya tentunya, tapi pada dua gelas Energen hangat di tangan saya. Aiih… padahal cuma dua gelas Energen hangat lho...
Rencana bohongan-nya, berempat kami akan mulai menyambung perjalanan ke Ijen pagi-pagi sekali. Akibat keliaran bibir Cahyo tidak terkendali dan terus-terusan menipu orang-orang yang entah dari LPM mana, juga menunggu Eka ‘Upil’menuntaskan urusan dengan tukang laundry, kami baru benar-benar berangkat pukul sepuluh.
Demi keselamatan perut, kami mampir sebentar membeli beberapa mi instan. Beruntung tampang rupawan Pras berhasil membius hati Ratih (anak Jember yang kebetulan adalah panitia Kongres), sehingga Ratih membekali sekotak roti yang amat lezat. Keluar dari Wisma yang entah apa namanya, ada angkot berhuruf A yang mengantarkan ke Terminal Arjasa. Dari Arjasa kami berganti bus menuju Bondowoso.
Fakta bahwa tidak seorang pun dari kami berempat pernah ke Ijen, benar-benar membawa sengsara. Hampir tiga jam kemudian, ketika sampai di Terminal Bondowoso, serentak kami berempat berpandangan dengan wajah penuh tanda tanya. “Turunnya di sini po?”
Cahyo berinisiatif mendatangi kondektur. Pak Supir bus pun turut campur melihat betapa blo’onnya wajah kami. “Ini Terminal Bondowoso, Mau ke mana Dhek?” Tanya Pak Supir Bus dengan kecepatan bicara yang hampir menyamai rekor smash Taufik Hidayat. Saya setel telinga dengan sebaik-baiknya, meskipun saya juga asli orang Jawa Timur, tapi orang Lamongan masih berbicara dengan lebih slow dan lembut.
Setelah Cahyo memaparkan niat kami yang hendak ke Ijen, Pak Supir Bus menerangkan fakta yang begitu menyesakkan. “Mobil angkutannya dah habis dhek kalo jam segini, terakhir jam sebelas kalo dari sini. Nanti turun di Gardu Atak saja, cari angkutan di sana,” ujar Pak Supir Bus.
Kami berempat kasak-kusuk, setengah tidak begitu bisa mengikuti apa yang dibicarakan Pak Supir Bus. Berkali-kali secara bergantian kami menanyakan di mana sebenarnya kami harus turun. Cara Pak Supir Bus mengucapkan ‘Gardu Atak’ terdengar sebagai ‘kaldukatak’ ditelinga saya, sebagai ‘Capduatang’ di telinga Pras dan lain lagi di telinga Cahyo dan Eka Upil. Pak Supir Bus yang salah mengira bahwa kami tidak mempercayai ucapannya, akhirnya berujar kesal, “Ya, kalau mau turun di sini terserah. Dah dikasih tahu juga,” kemudian disambung dengan bahasa Madura yang sama sekali tidak kami mengerti.
“Ya sudah, ngikut deh pak. Nanti kalau waktunya turun di kasih tahu ya Pak,” perkataan saya ditanggapi dengan anggukan kepala Pak Supir Bus. Sungguh terimakasih buat Pak Supir Bus yang pada akhirnya menurunkan kami di pertigaan Gardu Atak, setelah kami menambah ongkos dari Rp.3000 menjadi Rp4.500 per-orang. Memang sudah kewajibannya menurunkan kami di tempat yang benar, tapi kalo dia sedikit iseng kan berbahaya.
Gardu Atak sungguh sepi. Hanya ada sebiji Elf yang lagi entah niat berangkat entah tidak. Supirnya mendatangi kami, menawari untuk naik. Tawaran itu kami tolak mentah-mentah, seenaknya mematok harga sedemikian mahal dan akan menurunkan kami di tengah jalan, di Pasar Wonosari. Lha dari Wonosari kita di suruh ngesot apa...
Angkutan yang amat susah inilah yang kemudian saya tuding sebagai penyebab Ijen selalu lebih sepi ketimbang Bromo.
Di tengah penantian berbau cemas, datanglah sesosok laki-laki yang membuat kami selalu berubah-ubah dalam menilai dirinya. Bahkan, sampai sekarang masih sulit bagi saya memutuskan Mr. John itu baik atau jahat. Laki-laki itu mengenalkan diri sebagai Mr. John. Ditawarinya kami ikut mobilnya. Dipatoknya harga Rp.100.000 untuk sampai Sempol dan Rp130.000 untuk sampai Paltuding. Kami mulai berhitung dan berunding. Angkutan yang kami tunggu, sedianya akan memungut biaya Rp.25.000 per-orang untuk sampai ke Sempol. Tidak rugi menuruti Mr. John, tapi apa salahnya menawar.
Saya berada di muka, memelas minta Mr. John menurunkan harga, sekaligus minta diantarkan ke pos terakhir, Paltuding. Dari Sempol tidak ada angkutan lagi, alternatifnya naek ojek, jalan kaki, atau numpang truk yang kebetulan lewat. Padahal dari Sempol ke Paltuding berjarak sekitar 14 kilo meter.
Alot sungguh tawar-menawar dengan Mr. John. Apalagi dengan bodohnya saya memakai bahasa Jawa Kromo Halus yang rata-rata tidak dikuasai dengan baik oleh orang-orang daerah Bondowoso dan sekitarnya, termasuk Mr. John. Berharap Mr. John kasihan pun tampaknya sia-sia, saya, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ mungkin bisa saja bertampang memelas layaknya anak jalanan yang amat miskin. Tapi wajah tampan Pras sungguh terasa menyebalkan di saat-saat seperti ini.
Setelah beberapa lama, kami putuskan mengeluarkan jurus terakhir ala Pasar Beringharjo. Pura-pura tidak mau, padahal butuh, pake banget! Mr. John pun takluk, harga Rp110.000 sampai ke Paltuding, saya anggap sangat bagus. Meski agak dongkol juga, toh Mr. John dalam rangka mengangkut barang dagangan dan kami ini hanya bonus dadakan.
Kedongkolan masih tersisa di hati rekan-rekan saya karena hasrat untuk mendapatkan jasa sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya sesuai dengan prinsip ekonomi tidak terlaksana. Terbukti ketika membuka sekotak roti dari Ratih, mereka begitu jumawanya tak hendak menawari Mr. John. Tapi, saya pikir bukan hal menguntungkan itu. Setengah terpaksa Pras mengikuti anjuran saya untuk berbagi roti dengan Mr. John. Hal kecil inilah yang dalam perkiraan saya pada akhirnya mencairkan hubungan kami dengan Mr. John.
Obrolan kaku penuh basa-basi saya di awal perjalanan bersama Mr. John tampaknya membikin Pras agak lumer. Saya yang sudah tak tahu mesti berbasa-basi apa lagi di selamatkan oleh Pras yang tampaknya amat cepat bisa meniru logat berbicara Mr. John. Dengan setia Pras mendengarkan bualan-bualan Mr. John. Yah, sepengalaman saya, orang seumuran Mr. John selalu punya kelebihan untuk diceritakan pada orang-orang yang baru dikanalnya.
Tawaran tak terduga diajukan Mr. John. Menginap di rumahnya!
“Dingin dhek di sana, ke kawah baru besok pagi-pagi kan. Nginep saja di rumah saya. Kasihan saya ini melihat adhek-adhek nanti, mau tidur di mana. Besok pagi saya antar ke Paltuding. Jam dua pun saya antarkan kalo Adhek mau.” tawar Mr. John. Kami berempat serentak berpandangan.
Pras menjadi orang pertama yang tidak setuju, sisanya mengamini Pras. Tapi Mr. John terus saja melancarkan bujuk rayu menggiurkan. Eka ‘Upil’ tampak tergoda. Saya heran, kedua orang yang baru saya sebutkan tadi sesungguhnya pasangan atau musuh bebuyutan? Padahal saya dan Cahyo demikian adem ayem menjadi kubu yang ‘manut’ saja. Nginep di Paltuding oke, di rumah Mr. John juga boleh.
Sekitar dua jam, kami sampai di pos penjaga pertama. Pos penjagaan perkebunan kopi. Mr. John turun dan memberikan tiga bungkus mi instan pada penjaga yang membuka palang. “Ya, biasa untuk teman Dhek,” Mr. John menjelaskan tanpa kami tanya. Beberapa meter dari pos penjaga, kami dikejutkan lagi oleh Mr. John yang mendadak membelokkan mobil. Sebuah jalan kecil di apit rapat pohon kopi di kiri-kanan. Hanya pas untuk dilalui sebuah mobil, jejak ban mobil tampak tercetak dalam hanya berjarak beberapa depa dari pohon kopi.
Dalam hati saya bertanya-tanya, ke mana Mr. John membawa kami...?
Gerimis turun sejak dini hari, penggenap kemacetan jalan raya yang sempurna. Saya sempat hawatir, beberapa hari sebelumnya, kondisi cuaca seperti ini plus letupan lumpur baru yang amat dekat dengan badan jalan raya melumpuhkan jalur Porong.
Saya coba meredam kehawatiran dengan membaginya pada Cahyo lewat sms. Amat cepat Cahyo membalas, saya amat bersyukur mendapati fakta bahwa Cahyo mampu memindahkan kecanggihan bibir ke jempol ketika ber-sms. “Lha piye, sido ndene ra?” balas Cahyo. “Tak usahain,” kata saya.
Menyadari konsekuensi dari ‘Tak usahain’, saya berberes. Listrik di kamar dah mati semua, tabung gas pesanan Pras masuk ransel, beberapa batang coklat masuk ransel pula. Sleping bag? Hm… saya singkirkan. Pras menyuruh saya membawa sleping bag lebih jika ada, itu tandanya kemungkinan besar Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ tidak membawa sama sekali. Saya tak mau egois dong, jangan-jangan nanti saya amat nyaman dengan sleping bag, mereka kedinginan dan melirik saya dengan dengki. Auuu…
Gerimis sudah tak berbekas ketika saya sampai di Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih. Segera saya menuju peron, membayar Rp200 perak. Peron terminal ini selalu membuat saya menaruh simpati jika membandingkannya dengan Peron Terminal Tirtonadi, Solo. Jelas-jelas di karcis tertulis Rp.200, kok ya petugasnya ngeyel minta Rp.500. Saya tidak pernah dikasih kembalian ketika menyodorkan uang Rp.500. Jika saya sodorkan Rp.200 perak saja, petugasnya menggeram minta lebih. Cih, hal menyebalkan yang saya ingat akan Solo.
Dari Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih, saya naik bus menuju Jember. Tanpa menunggu lama bus segera berangkat. Di sebelah tempat duduk saya ada seorang perempuan. Saya taksir umurnya kira-kira antara 40-45 tahun. Setelah pandang-pandang dan senyum-senyum sedikit perempuan di sebelah saya membuka obrolan. Khas obrolan penumpang bus, orang-orang selalu melupakan etika berkenalan: menanyakan nama. Basa-basi mengenai tujuan selalu jadi pertanyaan awal yang diajukan.
Selesai dengan basa-basi biasa, perempuan disebelah saya tiba-tiba menjelma menjadi orang yang jago bercerita. Sementara saya jadi pendengar setia. Kalau saya rangkum, ceritanya akan jadi seperti ini:
Di masa lampau, Sang Perempuan mengadu nasib ke Malaysia. Sebagai TKI legal, beruntung dia menemukan majikan yang baik. Kerja selama kurang-lebih tujuh jam di sebuah restoran dengan gaji yang memuaskan. Sebagian gaji disisihkannya, sebagian lagi dikirim pulang pada kedua orang tuanya di Lumajang. Rupa-rupanya Sang Perempuan ini selain berbakti pada orang tua, juga mengidap penyakit bernama homesick. “Masiyo wes tuwo ngene iki, aku yo kangen terus karo omah, karo simbok-bapak lho mbak,” ujar sang Perempuan.
Nah, sebab makin lama homesick yang diidapnya makin parah, dia memutuskan pulang ke Indonesia. Berucap selamat tinggal selamanya pada Negeri Jiran. Sungguh anak yang berbakti ya…
Perjalanan kali ini pun ditempuh olehnya guna mengobati homesick yang diidapnya. Sang Perempuan yang sekarang bekerja sebagai pegawai urusan kerumah-tanggaan, sukses merayu bosnya agar mengijinkan pulang ke Lumajang dua bulan sekali. Khusus mengenai bosnya di Surabaya ini, Sang perempuan meluangkan waktu lebih banyak untuk bercerita pada saya.
“Majikanku cerewet pol, Mbak, seng saiki. Seng wedok, nek seng lanang asline wong-e apik. Nek aku masak ono wae seng kurang jarene. Padahal yo wes tak tepak-tepakno. Opo maneh nek masalah umbah-umbah. Klambi gek resik dikon ngumbah maneh, kemayu thok kok wong iku. Mosok klambi mari tak setriko dicacak thok, mari ngono dideleh kumbahan, dikon ngumbah maneh. Karo aku yo tak lempit maneh wae, Mbak. Padahal yo, Mbak, podo-podo wong Jowo wae lho. Wong semarang asline, gak pati sugeh yoan, ngono wae kemenyek-e gak karu-karuan. Saiki tak tinggal moleh, kapok ta gak wonge. Disangka’no gampang opo ngramut omahe," ceritone wong wedok mau.
(Majikanku cerewet banget, Mbak, yang sekarang. Yang perempuan sih, kalo yang laki-laki sebenarnya orang baik. Kalo aku masak katanya ada saja yang kurang. Padahal sudah saya bikin setepat-tepatnya. Apa lagi kalo masalah cucian. Baju masih bersih disuruh nyuci lagi. Belagu memang orang itu. Masak baju habis saya setrika cumin dicoba, lalu ditaruh di cucian, disuruh nyuci lagi. Sama aku ya tak lipat saja, Mbak. Padahal ya, Mbak, sama-sama orang Jawa saja lho. Aslinya orang Semarang, tidak begitu kaya juga, begitu saja belagunya tidak karu-karuan. Sekarang tak tinggal pulang, kapok apa gak tu orang. Dikiranya gampang apa ngrawat rumahnya. -red),” cerita Sang Perempuan.
Sebenarnya, dari seluruh cerita yang dituturkan, bagian mengenai bosnya itu yang paling saya suka. Dia tahu benar pentingnya pekerjaannya, ungkapannya tentang sesama Jawa, juga caranya mengerjai bos-nya. Lebih-lebih saya amat bersyukur tidak pernah mengalami yang namanya punya pembantu, dan tidak akan pernah. Ha ha ha….
Surabaya-Jember akan memakan waktu kurang lebih lima jam. Saya tidak berencana sama sekali menghabiskan lima jam saya dengan perempuan itu. Ceritanya menarik, tapi lama-lama saya bosan juga. Mana di mana wahai kursi kosong… mata saya mencari-cari. Beruntung sampai di probolinggo banyak penumpang turun. Tepat di depan, kursi ditinggal penumpang sama sekali. Tanpa pamit basa-basi (ra sopan tenan) saya angkat pantat dan pindah.
Aiiih… lega sekali, telinga saya akan beristirahat sejenak. Pemandanan di kiri kanan hijau, menyegarkan. Tapi, kelegaan saya tidak bertahan lama. Seorang Bapak naek, serta merasa kursi kosong di sebelah saya amat menawan. Sang Bapak hanya diam saja, sementara saya berpura-pura terkantuk-kantuk.
Tragedi…. Sungguh tragedi. Di awali dengan batuk kecil Sang Bapak. Lalu dalam gerakan lambat, Saya mendapati Sang Bapak menarik lengan jaketnya. Srooot…. Sroooot… Crooot….! Sang Bapak sukses memindah ingus dari hidung ke lengan jaketnya. Perasaan saya jadi tidak enak. Sebagai orang bergolongan darah A, saya mudah tertular penyakit, apalagi flu. Akan sangat menyiksa jika saya musti naek turun ke kawah Ijen sambil mengelap ingus. Nantinya, sesampai di Jember dan berpisah dengan Sang Bapak, saya menelan stimuno banyak-banyak. Sumpah saya sedang tak berselera untuk kena flu.
Di Jember, sedianya saya musti datang ke wisma di mana Kongres PPMI sedang berlangsung. Guna bertemu tiga orang cecunguk untuk kemudian ke Ijen bersama-sama. Namun, terlebih dahulu saya mesti tersesat. (Terimakasih buat mas-mas dari LPM Tegal Boto, Jember yang menyelamatkan saya di tengah ketersesatan, lupa saya namanya.)
Di wisma yang entah apa namanya, saya numpang menginap, juga pura-pura menyusun rencana perjalan ke Ijen. Ya, pura-pura, karena memang amat mustahil melakukan perencanaan dengan orang yang tidak mengenal kata ‘rencana’, ‘merencanakan’, dan ‘perencanaan’ dalam hidupnya.
Malam hari, Ayang Fakih mengajakku duduk berdampingan mesra, mengikuti Kongres Nasional PPMI. Seperti kebanyakan acara macam ini, kongres terasa menjemukan dan menyebalkan. Satu ayat dibahas sampai berjam-jam, debat kusir sana-sini. Pesertanya rata-rata jemu juga konsentrasi kurang dari separuh. Hal ini terbukti ketika di tengah Kongres saya hengkang dan berhasil merayu bapak penjaga wisma untuk berbagi air panas demi dua gelas Energen. Begitu kembali ke ruang Kongres, lebih dari separuh peserta memandangi saya, kasak-kusuk dengan air liur menetes-netes.
Bukan terpesona pada saya tentunya, tapi pada dua gelas Energen hangat di tangan saya. Aiih… padahal cuma dua gelas Energen hangat lho...
Rencana bohongan-nya, berempat kami akan mulai menyambung perjalanan ke Ijen pagi-pagi sekali. Akibat keliaran bibir Cahyo tidak terkendali dan terus-terusan menipu orang-orang yang entah dari LPM mana, juga menunggu Eka ‘Upil’menuntaskan urusan dengan tukang laundry, kami baru benar-benar berangkat pukul sepuluh.
Demi keselamatan perut, kami mampir sebentar membeli beberapa mi instan. Beruntung tampang rupawan Pras berhasil membius hati Ratih (anak Jember yang kebetulan adalah panitia Kongres), sehingga Ratih membekali sekotak roti yang amat lezat. Keluar dari Wisma yang entah apa namanya, ada angkot berhuruf A yang mengantarkan ke Terminal Arjasa. Dari Arjasa kami berganti bus menuju Bondowoso.
Fakta bahwa tidak seorang pun dari kami berempat pernah ke Ijen, benar-benar membawa sengsara. Hampir tiga jam kemudian, ketika sampai di Terminal Bondowoso, serentak kami berempat berpandangan dengan wajah penuh tanda tanya. “Turunnya di sini po?”
Cahyo berinisiatif mendatangi kondektur. Pak Supir bus pun turut campur melihat betapa blo’onnya wajah kami. “Ini Terminal Bondowoso, Mau ke mana Dhek?” Tanya Pak Supir Bus dengan kecepatan bicara yang hampir menyamai rekor smash Taufik Hidayat. Saya setel telinga dengan sebaik-baiknya, meskipun saya juga asli orang Jawa Timur, tapi orang Lamongan masih berbicara dengan lebih slow dan lembut.
Setelah Cahyo memaparkan niat kami yang hendak ke Ijen, Pak Supir Bus menerangkan fakta yang begitu menyesakkan. “Mobil angkutannya dah habis dhek kalo jam segini, terakhir jam sebelas kalo dari sini. Nanti turun di Gardu Atak saja, cari angkutan di sana,” ujar Pak Supir Bus.
Kami berempat kasak-kusuk, setengah tidak begitu bisa mengikuti apa yang dibicarakan Pak Supir Bus. Berkali-kali secara bergantian kami menanyakan di mana sebenarnya kami harus turun. Cara Pak Supir Bus mengucapkan ‘Gardu Atak’ terdengar sebagai ‘kaldukatak’ ditelinga saya, sebagai ‘Capduatang’ di telinga Pras dan lain lagi di telinga Cahyo dan Eka Upil. Pak Supir Bus yang salah mengira bahwa kami tidak mempercayai ucapannya, akhirnya berujar kesal, “Ya, kalau mau turun di sini terserah. Dah dikasih tahu juga,” kemudian disambung dengan bahasa Madura yang sama sekali tidak kami mengerti.
“Ya sudah, ngikut deh pak. Nanti kalau waktunya turun di kasih tahu ya Pak,” perkataan saya ditanggapi dengan anggukan kepala Pak Supir Bus. Sungguh terimakasih buat Pak Supir Bus yang pada akhirnya menurunkan kami di pertigaan Gardu Atak, setelah kami menambah ongkos dari Rp.3000 menjadi Rp4.500 per-orang. Memang sudah kewajibannya menurunkan kami di tempat yang benar, tapi kalo dia sedikit iseng kan berbahaya.
Gardu Atak sungguh sepi. Hanya ada sebiji Elf yang lagi entah niat berangkat entah tidak. Supirnya mendatangi kami, menawari untuk naik. Tawaran itu kami tolak mentah-mentah, seenaknya mematok harga sedemikian mahal dan akan menurunkan kami di tengah jalan, di Pasar Wonosari. Lha dari Wonosari kita di suruh ngesot apa...
Angkutan yang amat susah inilah yang kemudian saya tuding sebagai penyebab Ijen selalu lebih sepi ketimbang Bromo.
Di tengah penantian berbau cemas, datanglah sesosok laki-laki yang membuat kami selalu berubah-ubah dalam menilai dirinya. Bahkan, sampai sekarang masih sulit bagi saya memutuskan Mr. John itu baik atau jahat. Laki-laki itu mengenalkan diri sebagai Mr. John. Ditawarinya kami ikut mobilnya. Dipatoknya harga Rp.100.000 untuk sampai Sempol dan Rp130.000 untuk sampai Paltuding. Kami mulai berhitung dan berunding. Angkutan yang kami tunggu, sedianya akan memungut biaya Rp.25.000 per-orang untuk sampai ke Sempol. Tidak rugi menuruti Mr. John, tapi apa salahnya menawar.
Saya berada di muka, memelas minta Mr. John menurunkan harga, sekaligus minta diantarkan ke pos terakhir, Paltuding. Dari Sempol tidak ada angkutan lagi, alternatifnya naek ojek, jalan kaki, atau numpang truk yang kebetulan lewat. Padahal dari Sempol ke Paltuding berjarak sekitar 14 kilo meter.
Alot sungguh tawar-menawar dengan Mr. John. Apalagi dengan bodohnya saya memakai bahasa Jawa Kromo Halus yang rata-rata tidak dikuasai dengan baik oleh orang-orang daerah Bondowoso dan sekitarnya, termasuk Mr. John. Berharap Mr. John kasihan pun tampaknya sia-sia, saya, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ mungkin bisa saja bertampang memelas layaknya anak jalanan yang amat miskin. Tapi wajah tampan Pras sungguh terasa menyebalkan di saat-saat seperti ini.
Setelah beberapa lama, kami putuskan mengeluarkan jurus terakhir ala Pasar Beringharjo. Pura-pura tidak mau, padahal butuh, pake banget! Mr. John pun takluk, harga Rp110.000 sampai ke Paltuding, saya anggap sangat bagus. Meski agak dongkol juga, toh Mr. John dalam rangka mengangkut barang dagangan dan kami ini hanya bonus dadakan.
Kedongkolan masih tersisa di hati rekan-rekan saya karena hasrat untuk mendapatkan jasa sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya sesuai dengan prinsip ekonomi tidak terlaksana. Terbukti ketika membuka sekotak roti dari Ratih, mereka begitu jumawanya tak hendak menawari Mr. John. Tapi, saya pikir bukan hal menguntungkan itu. Setengah terpaksa Pras mengikuti anjuran saya untuk berbagi roti dengan Mr. John. Hal kecil inilah yang dalam perkiraan saya pada akhirnya mencairkan hubungan kami dengan Mr. John.
Obrolan kaku penuh basa-basi saya di awal perjalanan bersama Mr. John tampaknya membikin Pras agak lumer. Saya yang sudah tak tahu mesti berbasa-basi apa lagi di selamatkan oleh Pras yang tampaknya amat cepat bisa meniru logat berbicara Mr. John. Dengan setia Pras mendengarkan bualan-bualan Mr. John. Yah, sepengalaman saya, orang seumuran Mr. John selalu punya kelebihan untuk diceritakan pada orang-orang yang baru dikanalnya.
Tawaran tak terduga diajukan Mr. John. Menginap di rumahnya!
“Dingin dhek di sana, ke kawah baru besok pagi-pagi kan. Nginep saja di rumah saya. Kasihan saya ini melihat adhek-adhek nanti, mau tidur di mana. Besok pagi saya antar ke Paltuding. Jam dua pun saya antarkan kalo Adhek mau.” tawar Mr. John. Kami berempat serentak berpandangan.
Pras menjadi orang pertama yang tidak setuju, sisanya mengamini Pras. Tapi Mr. John terus saja melancarkan bujuk rayu menggiurkan. Eka ‘Upil’ tampak tergoda. Saya heran, kedua orang yang baru saya sebutkan tadi sesungguhnya pasangan atau musuh bebuyutan? Padahal saya dan Cahyo demikian adem ayem menjadi kubu yang ‘manut’ saja. Nginep di Paltuding oke, di rumah Mr. John juga boleh.
Sekitar dua jam, kami sampai di pos penjaga pertama. Pos penjagaan perkebunan kopi. Mr. John turun dan memberikan tiga bungkus mi instan pada penjaga yang membuka palang. “Ya, biasa untuk teman Dhek,” Mr. John menjelaskan tanpa kami tanya. Beberapa meter dari pos penjaga, kami dikejutkan lagi oleh Mr. John yang mendadak membelokkan mobil. Sebuah jalan kecil di apit rapat pohon kopi di kiri-kanan. Hanya pas untuk dilalui sebuah mobil, jejak ban mobil tampak tercetak dalam hanya berjarak beberapa depa dari pohon kopi.
Dalam hati saya bertanya-tanya, ke mana Mr. John membawa kami...?
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Pukul dua dini hari. Telepon genggam bututku me-ngorek (nada deringnya sungguh mirip kodok lagi ngorek), sms dari dua cecunguk—Pras+Cahyo yang kebetulan keduanya adalah teman lama yang kusayangi—. Di kemudian hari aku meyakini bahwa sms itu dikirim ketika Pras dan Cahyo berhasil menjebak Eka ‘Upil ‘ untuk bergelosor pada dinginnya lantai Stasiun Wonokromo. Aku membayangkan kereta api ekonomi dari Jogja menurunkan mereka pada jam yang kurang menguntungkan. Masih ada beberapa jam yang musti dihabiskan sekreatif mungkin sebelum mereka menemukan angkutan umum menuju Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih.
Sms berisi pemberitahuan bahwa mereka tengah terdampar di Surabaya beserta ajakan untuk ke Bromo tak membuat aku berminat membalasnya. Meski beberapa waktu sebelumnya Bromo sudah kusinggahi dengan mesra, tapi Bromo selalu menggoda. Masalahnya, perasaanku sudah kadung tak enak. Pengalaman ke Merapi bersama Cahyo teramat menghantui. Terlebih lagi masa aktif pulsa ku habis (perkara klasik namun terbukti mematikan).
Siang sekitar pukul sebelas, akhirnya aku mendapatkan bala bantuan bernama pulsa. Dengan itikad baik pun mengingat dua cecunguk itu adalah sahabat lama yang ternyata kusayangi, kubalas sms mereka. Jika direkonstruksi kejadian perkara sms tersebut, inilah yang terjadi:
Aku: “Melu, kapan…. Kapan…?”
Pras+Cahyo: “Saiki wes numpak bis soko Suroboyo nang Probolinggo.”
Aku: (Menghela nafas panjang karena jengkel. Tapi, berusaha sabar karena sepenuhnya sadar sedang menghadapi dua cecunguk yang tak pernah mengenal kata ‘rencana’, ‘’perencanaan’, ataupun ‘merencanakan’)
Pras+Cahyo: “Kowe seh, di sms ra bales-bales.”
Aku: “Lha aku ra ono pulsa mau ki. Kowe ngajak yo ndadak banget. Kan iso sms wingi-wingi.”
Pras+Cahyo: “Yo nyusul wae, tak tunggu nang Probolinggo wes.”
Aku: “Tak mikir sikek.”
Pras+Cahyo: “Bar iki nang Ijen lho.”
Aku: (Meneteskan air liur mendengar Ijen. Seketika lupa akan semua kebiadaban Pras dan Cahyo.)
Aku bukan lagi orang yang bebas dari tanggungjawab, bepergian bukan lagi selayaknya kentut, begitu pengen ya tinggal ngeden aja. Ada Pihak-pihak Tertentu yang harus kusodori proposal guna meng-acc acara bepergian. Mencantumkan secara jelas, dari tanggal berapa sampai tanggal berapa? Naek pesawat, kereta, bus, dokar, atau ngesot? Di mana nanti aku akan menginap? Makan berapa kali sehari nanti?
Akhirnya setelah lobi-lobi penuh intrik pada Pihak-pihak Tertentu, aku putuskan ikut ke Ijen. Menyusul ke Probolinggo bukan keputusan tepat. Di kemudian hari aku amat bersyukur akan keputusan itu. Dari mulut Eka ‘Upil’ aku mendengar cerita yang amat miris. Dengan tingkat kepercayaan diri lebih dari 100%, Pras mengusulkan pada Eka ‘Upil’ dan Cahyo agar perjalanan selanjutnya ditempuh dengan jalan kaki. Probolinggo-Bromo jalan kaki?! Meski usul Pras ini terasa lebih masuk akal ketimbang ‘Probolinggo-Bromo via ngesot’, tapi bagi Cahyo dan Eka ‘Upil’ tetap saja mengenaskan.
Aku bisa membayangkan bagaimana Eka ‘Upil’ dan Cahyo terlibat debat kusir yang teramat a lot dengan Pras, sebelum pada akhirnya mereka akur lagi. Dengan ikhlas, bersama-sama menunggu angkutan dari Probolinggo-Bromo berangkat. Mengingat angkutan Probolinggo-Bromo memang terkenal aduhai lama sekali berangkatnya, di sela-sela kebosanan cahyo dan Eka ‘upil’ menunggu, sesekali Pras masih melancarkan bujuk-rayu ‘Probolinggo-Bromo jalan kaki.’ Pras merasa harus tutup mulut ketika perempuan pujaan hatinya (Eka ‘Upil’ -red) dengan jumawa berkata, “Kakanda Pras, silahkan engkau berjalankaki terlebih dahulu seperti kehendak hatimu. Kelak aku dan Cahyo akan menanti kedatanganmu di Bromo. Jika kereta kencono ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’ yang kami tumpangi berpapasan denganmu, akan kulambaikan tangan demi memberi engkau semangat.”
Kesabaran akhirnya membuahkan hasil, Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya sukses mengantarkan Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ dengan selamat, tanpa gempor atau pantat tepos ke Bromo. Atas keberhasilan yang mereka capai, langit pun terharu dan mencucurkan sedikit hujan tepat di atas tubuh mereka.
Namun, keharu-biruan langit sampai pada Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ sebagai kutukan. Sebenarnya dengan tekad baja, mereka telah sepakat berjanji tidak akan menyewa penginapan. Bertenda? Tidak, mereka tidak membawa tenda. Ngemper entah di mana, begitu rencana mereka. Keharu-biruan langit serta fakta bahwa mereka sampai di Bromo terlalu sore (eh siang ding, sekitar jam dua-an gitu ya…) merambatkan kegamangan pada mereka. Tekad boleh baja, tapi tubuh mereka tetap saja berupa sekumpulan tulang dibalut sedikit daging. Tanpa secuil pun lemak yang mungkin membantu mereka menahan dingin. Persis di saat itu, mereka serentak berharap menjadi Rhea yang mendadak menjadi demikian menggiurkan dan ginuk-ginuk sexy dalam bayangan mereka.
Rhea tak ada, penginapan pun jadi. Sebuah kamar seharga antara lima puluh atau seratus ribu (aku agak lupa akan penuturan Eka ‘Upil’ mengenai harga kamar ini, biarlah Upil yang mengklarifikasi.) di rumah penduduk setempat menjadi pilihan mereka bertiga. Di kemudian hari, perkara tidur bertiga seranjang ini menjadi topik seru ketika aku sudah bergabung dengan mereka. Cahyo mengeluh bahwa Pras dan Eka ‘Upil’ berpelukan dan merampas selimut tanpa peduli akan Cahyo yang kedinginan. Pras pun mengeluhkan Cahyo dan ‘Eka Upil’ dengan nada hampir serupa. Sementara Eka ‘Upil’ merasa bahwa Cahyo dan Pras-lah yang berpelukan mesra dan tidak menyisakan seujung bagian selimut pun untuknya. Entah siapa yang jujur di antara mereka bertiga. Yang pasti, ide akur bertiga untuk saling menghangatkan sama sekali tidak ada.
Maka beristirahatlah Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ entah dengan tenang atau gaduh di sebilik kamar. Mereka berencana bangun pukul dua dini hari, berjalan kaki menuju Penanjakan demi melihat matahari terbit. Naas bagi Eka ‘Upil’ yang ditunjuk untuk membangunkan Pras dan Cahyo. Membangunkan dua lelaki itu lebih susah ketimbang mendorong kerbau ataupun Vespa mogok.
Sadar bahwa usahanya tak membuahkan hasil, Eka ‘Upil’ menyerah. Setengah nggondok, sekitar pukul lima dia berjalan kaki sendirian. Bukan ke Penanjakan tentunya, paling tidak butuh lima sampai enam jam untuk berjalan kaki dari pemukiman penduduk menuju Penanjakan. Dari foto yang ditunjukkan, dalam perkiraanku pemandangan yang dilihat ‘Eka Upil’ demi mengobati kekesalan hatinya diambil dari samping hotel Cemoro Indah.
Matahari sudah sedemikian tinggi, gagal mendapat sunrice dengan cara mengenaskan, ketiga pengembara semi gadungan itu pun bergegas menuju kawah Bromo.
Perjalanan pulang dari Bromo saya pikir biasa-biasa saja, mereka naek ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’. Dari Probolinggo mereka menuju Jember. Rencananya, di Jember saya akan menemui mereka dan bersama-sama meneruskan berkelana ke Kawah Ijen. Firasat buruk saya pada nantinya akan terbukti dalam perjalanan menuju Kawah Ijen...
Sms berisi pemberitahuan bahwa mereka tengah terdampar di Surabaya beserta ajakan untuk ke Bromo tak membuat aku berminat membalasnya. Meski beberapa waktu sebelumnya Bromo sudah kusinggahi dengan mesra, tapi Bromo selalu menggoda. Masalahnya, perasaanku sudah kadung tak enak. Pengalaman ke Merapi bersama Cahyo teramat menghantui. Terlebih lagi masa aktif pulsa ku habis (perkara klasik namun terbukti mematikan).
Siang sekitar pukul sebelas, akhirnya aku mendapatkan bala bantuan bernama pulsa. Dengan itikad baik pun mengingat dua cecunguk itu adalah sahabat lama yang ternyata kusayangi, kubalas sms mereka. Jika direkonstruksi kejadian perkara sms tersebut, inilah yang terjadi:
Aku: “Melu, kapan…. Kapan…?”
Pras+Cahyo: “Saiki wes numpak bis soko Suroboyo nang Probolinggo.”
Aku: (Menghela nafas panjang karena jengkel. Tapi, berusaha sabar karena sepenuhnya sadar sedang menghadapi dua cecunguk yang tak pernah mengenal kata ‘rencana’, ‘’perencanaan’, ataupun ‘merencanakan’)
Pras+Cahyo: “Kowe seh, di sms ra bales-bales.”
Aku: “Lha aku ra ono pulsa mau ki. Kowe ngajak yo ndadak banget. Kan iso sms wingi-wingi.”
Pras+Cahyo: “Yo nyusul wae, tak tunggu nang Probolinggo wes.”
Aku: “Tak mikir sikek.”
Pras+Cahyo: “Bar iki nang Ijen lho.”
Aku: (Meneteskan air liur mendengar Ijen. Seketika lupa akan semua kebiadaban Pras dan Cahyo.)
Aku bukan lagi orang yang bebas dari tanggungjawab, bepergian bukan lagi selayaknya kentut, begitu pengen ya tinggal ngeden aja. Ada Pihak-pihak Tertentu yang harus kusodori proposal guna meng-acc acara bepergian. Mencantumkan secara jelas, dari tanggal berapa sampai tanggal berapa? Naek pesawat, kereta, bus, dokar, atau ngesot? Di mana nanti aku akan menginap? Makan berapa kali sehari nanti?
Akhirnya setelah lobi-lobi penuh intrik pada Pihak-pihak Tertentu, aku putuskan ikut ke Ijen. Menyusul ke Probolinggo bukan keputusan tepat. Di kemudian hari aku amat bersyukur akan keputusan itu. Dari mulut Eka ‘Upil’ aku mendengar cerita yang amat miris. Dengan tingkat kepercayaan diri lebih dari 100%, Pras mengusulkan pada Eka ‘Upil’ dan Cahyo agar perjalanan selanjutnya ditempuh dengan jalan kaki. Probolinggo-Bromo jalan kaki?! Meski usul Pras ini terasa lebih masuk akal ketimbang ‘Probolinggo-Bromo via ngesot’, tapi bagi Cahyo dan Eka ‘Upil’ tetap saja mengenaskan.
Aku bisa membayangkan bagaimana Eka ‘Upil’ dan Cahyo terlibat debat kusir yang teramat a lot dengan Pras, sebelum pada akhirnya mereka akur lagi. Dengan ikhlas, bersama-sama menunggu angkutan dari Probolinggo-Bromo berangkat. Mengingat angkutan Probolinggo-Bromo memang terkenal aduhai lama sekali berangkatnya, di sela-sela kebosanan cahyo dan Eka ‘upil’ menunggu, sesekali Pras masih melancarkan bujuk-rayu ‘Probolinggo-Bromo jalan kaki.’ Pras merasa harus tutup mulut ketika perempuan pujaan hatinya (Eka ‘Upil’ -red) dengan jumawa berkata, “Kakanda Pras, silahkan engkau berjalankaki terlebih dahulu seperti kehendak hatimu. Kelak aku dan Cahyo akan menanti kedatanganmu di Bromo. Jika kereta kencono ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’ yang kami tumpangi berpapasan denganmu, akan kulambaikan tangan demi memberi engkau semangat.”
Kesabaran akhirnya membuahkan hasil, Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya sukses mengantarkan Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ dengan selamat, tanpa gempor atau pantat tepos ke Bromo. Atas keberhasilan yang mereka capai, langit pun terharu dan mencucurkan sedikit hujan tepat di atas tubuh mereka.
Namun, keharu-biruan langit sampai pada Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ sebagai kutukan. Sebenarnya dengan tekad baja, mereka telah sepakat berjanji tidak akan menyewa penginapan. Bertenda? Tidak, mereka tidak membawa tenda. Ngemper entah di mana, begitu rencana mereka. Keharu-biruan langit serta fakta bahwa mereka sampai di Bromo terlalu sore (eh siang ding, sekitar jam dua-an gitu ya…) merambatkan kegamangan pada mereka. Tekad boleh baja, tapi tubuh mereka tetap saja berupa sekumpulan tulang dibalut sedikit daging. Tanpa secuil pun lemak yang mungkin membantu mereka menahan dingin. Persis di saat itu, mereka serentak berharap menjadi Rhea yang mendadak menjadi demikian menggiurkan dan ginuk-ginuk sexy dalam bayangan mereka.
Rhea tak ada, penginapan pun jadi. Sebuah kamar seharga antara lima puluh atau seratus ribu (aku agak lupa akan penuturan Eka ‘Upil’ mengenai harga kamar ini, biarlah Upil yang mengklarifikasi.) di rumah penduduk setempat menjadi pilihan mereka bertiga. Di kemudian hari, perkara tidur bertiga seranjang ini menjadi topik seru ketika aku sudah bergabung dengan mereka. Cahyo mengeluh bahwa Pras dan Eka ‘Upil’ berpelukan dan merampas selimut tanpa peduli akan Cahyo yang kedinginan. Pras pun mengeluhkan Cahyo dan ‘Eka Upil’ dengan nada hampir serupa. Sementara Eka ‘Upil’ merasa bahwa Cahyo dan Pras-lah yang berpelukan mesra dan tidak menyisakan seujung bagian selimut pun untuknya. Entah siapa yang jujur di antara mereka bertiga. Yang pasti, ide akur bertiga untuk saling menghangatkan sama sekali tidak ada.
Maka beristirahatlah Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ entah dengan tenang atau gaduh di sebilik kamar. Mereka berencana bangun pukul dua dini hari, berjalan kaki menuju Penanjakan demi melihat matahari terbit. Naas bagi Eka ‘Upil’ yang ditunjuk untuk membangunkan Pras dan Cahyo. Membangunkan dua lelaki itu lebih susah ketimbang mendorong kerbau ataupun Vespa mogok.
Sadar bahwa usahanya tak membuahkan hasil, Eka ‘Upil’ menyerah. Setengah nggondok, sekitar pukul lima dia berjalan kaki sendirian. Bukan ke Penanjakan tentunya, paling tidak butuh lima sampai enam jam untuk berjalan kaki dari pemukiman penduduk menuju Penanjakan. Dari foto yang ditunjukkan, dalam perkiraanku pemandangan yang dilihat ‘Eka Upil’ demi mengobati kekesalan hatinya diambil dari samping hotel Cemoro Indah.
Matahari sudah sedemikian tinggi, gagal mendapat sunrice dengan cara mengenaskan, ketiga pengembara semi gadungan itu pun bergegas menuju kawah Bromo.
Perjalanan pulang dari Bromo saya pikir biasa-biasa saja, mereka naek ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’. Dari Probolinggo mereka menuju Jember. Rencananya, di Jember saya akan menemui mereka dan bersama-sama meneruskan berkelana ke Kawah Ijen. Firasat buruk saya pada nantinya akan terbukti dalam perjalanan menuju Kawah Ijen...
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Langganan:
Postingan (Atom)
