Selasa, 01 Juni 2010
Pukul dua dini hari. Telepon genggam bututku me-ngorek (nada deringnya sungguh mirip kodok lagi ngorek), sms dari dua cecunguk—Pras+Cahyo yang kebetulan keduanya adalah teman lama yang kusayangi—. Di kemudian hari aku meyakini bahwa sms itu dikirim ketika Pras dan Cahyo berhasil menjebak Eka ‘Upil ‘ untuk bergelosor pada dinginnya lantai Stasiun Wonokromo. Aku membayangkan kereta api ekonomi dari Jogja menurunkan mereka pada jam yang kurang menguntungkan. Masih ada beberapa jam yang musti dihabiskan sekreatif mungkin sebelum mereka menemukan angkutan umum menuju Terminal Purabaya a.k.a Bungurasih.
Sms berisi pemberitahuan bahwa mereka tengah terdampar di Surabaya beserta ajakan untuk ke Bromo tak membuat aku berminat membalasnya. Meski beberapa waktu sebelumnya Bromo sudah kusinggahi dengan mesra, tapi Bromo selalu menggoda. Masalahnya, perasaanku sudah kadung tak enak. Pengalaman ke Merapi bersama Cahyo teramat menghantui. Terlebih lagi masa aktif pulsa ku habis (perkara klasik namun terbukti mematikan).
Siang sekitar pukul sebelas, akhirnya aku mendapatkan bala bantuan bernama pulsa. Dengan itikad baik pun mengingat dua cecunguk itu adalah sahabat lama yang ternyata kusayangi, kubalas sms mereka. Jika direkonstruksi kejadian perkara sms tersebut, inilah yang terjadi:
Aku: “Melu, kapan…. Kapan…?”
Pras+Cahyo: “Saiki wes numpak bis soko Suroboyo nang Probolinggo.”
Aku: (Menghela nafas panjang karena jengkel. Tapi, berusaha sabar karena sepenuhnya sadar sedang menghadapi dua cecunguk yang tak pernah mengenal kata ‘rencana’, ‘’perencanaan’, ataupun ‘merencanakan’)
Pras+Cahyo: “Kowe seh, di sms ra bales-bales.”
Aku: “Lha aku ra ono pulsa mau ki. Kowe ngajak yo ndadak banget. Kan iso sms wingi-wingi.”
Pras+Cahyo: “Yo nyusul wae, tak tunggu nang Probolinggo wes.”
Aku: “Tak mikir sikek.”
Pras+Cahyo: “Bar iki nang Ijen lho.”
Aku: (Meneteskan air liur mendengar Ijen. Seketika lupa akan semua kebiadaban Pras dan Cahyo.)
Aku bukan lagi orang yang bebas dari tanggungjawab, bepergian bukan lagi selayaknya kentut, begitu pengen ya tinggal ngeden aja. Ada Pihak-pihak Tertentu yang harus kusodori proposal guna meng-acc acara bepergian. Mencantumkan secara jelas, dari tanggal berapa sampai tanggal berapa? Naek pesawat, kereta, bus, dokar, atau ngesot? Di mana nanti aku akan menginap? Makan berapa kali sehari nanti?
Akhirnya setelah lobi-lobi penuh intrik pada Pihak-pihak Tertentu, aku putuskan ikut ke Ijen. Menyusul ke Probolinggo bukan keputusan tepat. Di kemudian hari aku amat bersyukur akan keputusan itu. Dari mulut Eka ‘Upil’ aku mendengar cerita yang amat miris. Dengan tingkat kepercayaan diri lebih dari 100%, Pras mengusulkan pada Eka ‘Upil’ dan Cahyo agar perjalanan selanjutnya ditempuh dengan jalan kaki. Probolinggo-Bromo jalan kaki?! Meski usul Pras ini terasa lebih masuk akal ketimbang ‘Probolinggo-Bromo via ngesot’, tapi bagi Cahyo dan Eka ‘Upil’ tetap saja mengenaskan.
Aku bisa membayangkan bagaimana Eka ‘Upil’ dan Cahyo terlibat debat kusir yang teramat a lot dengan Pras, sebelum pada akhirnya mereka akur lagi. Dengan ikhlas, bersama-sama menunggu angkutan dari Probolinggo-Bromo berangkat. Mengingat angkutan Probolinggo-Bromo memang terkenal aduhai lama sekali berangkatnya, di sela-sela kebosanan cahyo dan Eka ‘upil’ menunggu, sesekali Pras masih melancarkan bujuk-rayu ‘Probolinggo-Bromo jalan kaki.’ Pras merasa harus tutup mulut ketika perempuan pujaan hatinya (Eka ‘Upil’ -red) dengan jumawa berkata, “Kakanda Pras, silahkan engkau berjalankaki terlebih dahulu seperti kehendak hatimu. Kelak aku dan Cahyo akan menanti kedatanganmu di Bromo. Jika kereta kencono ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’ yang kami tumpangi berpapasan denganmu, akan kulambaikan tangan demi memberi engkau semangat.”
Kesabaran akhirnya membuahkan hasil, Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya sukses mengantarkan Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ dengan selamat, tanpa gempor atau pantat tepos ke Bromo. Atas keberhasilan yang mereka capai, langit pun terharu dan mencucurkan sedikit hujan tepat di atas tubuh mereka.
Namun, keharu-biruan langit sampai pada Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ sebagai kutukan. Sebenarnya dengan tekad baja, mereka telah sepakat berjanji tidak akan menyewa penginapan. Bertenda? Tidak, mereka tidak membawa tenda. Ngemper entah di mana, begitu rencana mereka. Keharu-biruan langit serta fakta bahwa mereka sampai di Bromo terlalu sore (eh siang ding, sekitar jam dua-an gitu ya…) merambatkan kegamangan pada mereka. Tekad boleh baja, tapi tubuh mereka tetap saja berupa sekumpulan tulang dibalut sedikit daging. Tanpa secuil pun lemak yang mungkin membantu mereka menahan dingin. Persis di saat itu, mereka serentak berharap menjadi Rhea yang mendadak menjadi demikian menggiurkan dan ginuk-ginuk sexy dalam bayangan mereka.
Rhea tak ada, penginapan pun jadi. Sebuah kamar seharga antara lima puluh atau seratus ribu (aku agak lupa akan penuturan Eka ‘Upil’ mengenai harga kamar ini, biarlah Upil yang mengklarifikasi.) di rumah penduduk setempat menjadi pilihan mereka bertiga. Di kemudian hari, perkara tidur bertiga seranjang ini menjadi topik seru ketika aku sudah bergabung dengan mereka. Cahyo mengeluh bahwa Pras dan Eka ‘Upil’ berpelukan dan merampas selimut tanpa peduli akan Cahyo yang kedinginan. Pras pun mengeluhkan Cahyo dan ‘Eka Upil’ dengan nada hampir serupa. Sementara Eka ‘Upil’ merasa bahwa Cahyo dan Pras-lah yang berpelukan mesra dan tidak menyisakan seujung bagian selimut pun untuknya. Entah siapa yang jujur di antara mereka bertiga. Yang pasti, ide akur bertiga untuk saling menghangatkan sama sekali tidak ada.
Maka beristirahatlah Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ entah dengan tenang atau gaduh di sebilik kamar. Mereka berencana bangun pukul dua dini hari, berjalan kaki menuju Penanjakan demi melihat matahari terbit. Naas bagi Eka ‘Upil’ yang ditunjuk untuk membangunkan Pras dan Cahyo. Membangunkan dua lelaki itu lebih susah ketimbang mendorong kerbau ataupun Vespa mogok.
Sadar bahwa usahanya tak membuahkan hasil, Eka ‘Upil’ menyerah. Setengah nggondok, sekitar pukul lima dia berjalan kaki sendirian. Bukan ke Penanjakan tentunya, paling tidak butuh lima sampai enam jam untuk berjalan kaki dari pemukiman penduduk menuju Penanjakan. Dari foto yang ditunjukkan, dalam perkiraanku pemandangan yang dilihat ‘Eka Upil’ demi mengobati kekesalan hatinya diambil dari samping hotel Cemoro Indah.
Matahari sudah sedemikian tinggi, gagal mendapat sunrice dengan cara mengenaskan, ketiga pengembara semi gadungan itu pun bergegas menuju kawah Bromo.
Perjalanan pulang dari Bromo saya pikir biasa-biasa saja, mereka naek ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’. Dari Probolinggo mereka menuju Jember. Rencananya, di Jember saya akan menemui mereka dan bersama-sama meneruskan berkelana ke Kawah Ijen. Firasat buruk saya pada nantinya akan terbukti dalam perjalanan menuju Kawah Ijen...
Sms berisi pemberitahuan bahwa mereka tengah terdampar di Surabaya beserta ajakan untuk ke Bromo tak membuat aku berminat membalasnya. Meski beberapa waktu sebelumnya Bromo sudah kusinggahi dengan mesra, tapi Bromo selalu menggoda. Masalahnya, perasaanku sudah kadung tak enak. Pengalaman ke Merapi bersama Cahyo teramat menghantui. Terlebih lagi masa aktif pulsa ku habis (perkara klasik namun terbukti mematikan).
Siang sekitar pukul sebelas, akhirnya aku mendapatkan bala bantuan bernama pulsa. Dengan itikad baik pun mengingat dua cecunguk itu adalah sahabat lama yang ternyata kusayangi, kubalas sms mereka. Jika direkonstruksi kejadian perkara sms tersebut, inilah yang terjadi:
Aku: “Melu, kapan…. Kapan…?”
Pras+Cahyo: “Saiki wes numpak bis soko Suroboyo nang Probolinggo.”
Aku: (Menghela nafas panjang karena jengkel. Tapi, berusaha sabar karena sepenuhnya sadar sedang menghadapi dua cecunguk yang tak pernah mengenal kata ‘rencana’, ‘’perencanaan’, ataupun ‘merencanakan’)
Pras+Cahyo: “Kowe seh, di sms ra bales-bales.”
Aku: “Lha aku ra ono pulsa mau ki. Kowe ngajak yo ndadak banget. Kan iso sms wingi-wingi.”
Pras+Cahyo: “Yo nyusul wae, tak tunggu nang Probolinggo wes.”
Aku: “Tak mikir sikek.”
Pras+Cahyo: “Bar iki nang Ijen lho.”
Aku: (Meneteskan air liur mendengar Ijen. Seketika lupa akan semua kebiadaban Pras dan Cahyo.)
Aku bukan lagi orang yang bebas dari tanggungjawab, bepergian bukan lagi selayaknya kentut, begitu pengen ya tinggal ngeden aja. Ada Pihak-pihak Tertentu yang harus kusodori proposal guna meng-acc acara bepergian. Mencantumkan secara jelas, dari tanggal berapa sampai tanggal berapa? Naek pesawat, kereta, bus, dokar, atau ngesot? Di mana nanti aku akan menginap? Makan berapa kali sehari nanti?
Akhirnya setelah lobi-lobi penuh intrik pada Pihak-pihak Tertentu, aku putuskan ikut ke Ijen. Menyusul ke Probolinggo bukan keputusan tepat. Di kemudian hari aku amat bersyukur akan keputusan itu. Dari mulut Eka ‘Upil’ aku mendengar cerita yang amat miris. Dengan tingkat kepercayaan diri lebih dari 100%, Pras mengusulkan pada Eka ‘Upil’ dan Cahyo agar perjalanan selanjutnya ditempuh dengan jalan kaki. Probolinggo-Bromo jalan kaki?! Meski usul Pras ini terasa lebih masuk akal ketimbang ‘Probolinggo-Bromo via ngesot’, tapi bagi Cahyo dan Eka ‘Upil’ tetap saja mengenaskan.
Aku bisa membayangkan bagaimana Eka ‘Upil’ dan Cahyo terlibat debat kusir yang teramat a lot dengan Pras, sebelum pada akhirnya mereka akur lagi. Dengan ikhlas, bersama-sama menunggu angkutan dari Probolinggo-Bromo berangkat. Mengingat angkutan Probolinggo-Bromo memang terkenal aduhai lama sekali berangkatnya, di sela-sela kebosanan cahyo dan Eka ‘upil’ menunggu, sesekali Pras masih melancarkan bujuk-rayu ‘Probolinggo-Bromo jalan kaki.’ Pras merasa harus tutup mulut ketika perempuan pujaan hatinya (Eka ‘Upil’ -red) dengan jumawa berkata, “Kakanda Pras, silahkan engkau berjalankaki terlebih dahulu seperti kehendak hatimu. Kelak aku dan Cahyo akan menanti kedatanganmu di Bromo. Jika kereta kencono ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’ yang kami tumpangi berpapasan denganmu, akan kulambaikan tangan demi memberi engkau semangat.”
Kesabaran akhirnya membuahkan hasil, Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya sukses mengantarkan Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ dengan selamat, tanpa gempor atau pantat tepos ke Bromo. Atas keberhasilan yang mereka capai, langit pun terharu dan mencucurkan sedikit hujan tepat di atas tubuh mereka.
Namun, keharu-biruan langit sampai pada Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ sebagai kutukan. Sebenarnya dengan tekad baja, mereka telah sepakat berjanji tidak akan menyewa penginapan. Bertenda? Tidak, mereka tidak membawa tenda. Ngemper entah di mana, begitu rencana mereka. Keharu-biruan langit serta fakta bahwa mereka sampai di Bromo terlalu sore (eh siang ding, sekitar jam dua-an gitu ya…) merambatkan kegamangan pada mereka. Tekad boleh baja, tapi tubuh mereka tetap saja berupa sekumpulan tulang dibalut sedikit daging. Tanpa secuil pun lemak yang mungkin membantu mereka menahan dingin. Persis di saat itu, mereka serentak berharap menjadi Rhea yang mendadak menjadi demikian menggiurkan dan ginuk-ginuk sexy dalam bayangan mereka.
Rhea tak ada, penginapan pun jadi. Sebuah kamar seharga antara lima puluh atau seratus ribu (aku agak lupa akan penuturan Eka ‘Upil’ mengenai harga kamar ini, biarlah Upil yang mengklarifikasi.) di rumah penduduk setempat menjadi pilihan mereka bertiga. Di kemudian hari, perkara tidur bertiga seranjang ini menjadi topik seru ketika aku sudah bergabung dengan mereka. Cahyo mengeluh bahwa Pras dan Eka ‘Upil’ berpelukan dan merampas selimut tanpa peduli akan Cahyo yang kedinginan. Pras pun mengeluhkan Cahyo dan ‘Eka Upil’ dengan nada hampir serupa. Sementara Eka ‘Upil’ merasa bahwa Cahyo dan Pras-lah yang berpelukan mesra dan tidak menyisakan seujung bagian selimut pun untuknya. Entah siapa yang jujur di antara mereka bertiga. Yang pasti, ide akur bertiga untuk saling menghangatkan sama sekali tidak ada.
Maka beristirahatlah Pras, Cahyo, dan Eka ‘Upil’ entah dengan tenang atau gaduh di sebilik kamar. Mereka berencana bangun pukul dua dini hari, berjalan kaki menuju Penanjakan demi melihat matahari terbit. Naas bagi Eka ‘Upil’ yang ditunjuk untuk membangunkan Pras dan Cahyo. Membangunkan dua lelaki itu lebih susah ketimbang mendorong kerbau ataupun Vespa mogok.
Sadar bahwa usahanya tak membuahkan hasil, Eka ‘Upil’ menyerah. Setengah nggondok, sekitar pukul lima dia berjalan kaki sendirian. Bukan ke Penanjakan tentunya, paling tidak butuh lima sampai enam jam untuk berjalan kaki dari pemukiman penduduk menuju Penanjakan. Dari foto yang ditunjukkan, dalam perkiraanku pemandangan yang dilihat ‘Eka Upil’ demi mengobati kekesalan hatinya diambil dari samping hotel Cemoro Indah.
Matahari sudah sedemikian tinggi, gagal mendapat sunrice dengan cara mengenaskan, ketiga pengembara semi gadungan itu pun bergegas menuju kawah Bromo.
Perjalanan pulang dari Bromo saya pikir biasa-biasa saja, mereka naek ‘Angkutan Probolinggo-Bromo Yang Terkenal Aduhai Lama Sekali Berangkatnya’. Dari Probolinggo mereka menuju Jember. Rencananya, di Jember saya akan menemui mereka dan bersama-sama meneruskan berkelana ke Kawah Ijen. Firasat buruk saya pada nantinya akan terbukti dalam perjalanan menuju Kawah Ijen...
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar