Senin, 26 Juli 2010
biarkan saja kecupan-kecupan kecil mengapung di udara
sesekali menggeletar
dan api terpantik,
menelikung wajahku dan wajahmu
bersandarlah purnama
sebagai pengantar bintang dini hari
langit dilumuri pucat
tanda malam kian retak
kita adalah pelaki tersopan
yang memeliharanya dalam diam
bintang dini hari, bintang kejora
langit-langit kamar benderang tak habis-habisnya
kaca-kaca menebal
untuk sebuah persetubuhan abadi
yang tak terlaksana
sesekali menggeletar
dan api terpantik,
menelikung wajahku dan wajahmu
bersandarlah purnama
sebagai pengantar bintang dini hari
langit dilumuri pucat
tanda malam kian retak
kita adalah pelaki tersopan
yang memeliharanya dalam diam
bintang dini hari, bintang kejora
langit-langit kamar benderang tak habis-habisnya
kaca-kaca menebal
untuk sebuah persetubuhan abadi
yang tak terlaksana
ketika angin musim ini menghujamkan daun-daun
dari reranting rapuh ke kerjap mata
kita menyurukkan kepala
pada kursi beton yang panas dingin
bersepakat dengan matahari
kutukar satu paragraf yang kau minta
dengan satu, dua
baris bait puisi
karena denganmu aku tak pernah suka bermain janji
duduk di sini
memelihara aroma kopi
berbeda dengan denting cangkir dan meja kaca
kita menghirup udara yang sama
lalu menghembuskannya dengan tawa
barangkali,
Tuhan juga sedang ingin bercanda
dari reranting rapuh ke kerjap mata
kita menyurukkan kepala
pada kursi beton yang panas dingin
bersepakat dengan matahari
kutukar satu paragraf yang kau minta
dengan satu, dua
baris bait puisi
karena denganmu aku tak pernah suka bermain janji
duduk di sini
memelihara aroma kopi
berbeda dengan denting cangkir dan meja kaca
kita menghirup udara yang sama
lalu menghembuskannya dengan tawa
barangkali,
Tuhan juga sedang ingin bercanda
Jauh di ceruk sunyi berlapis kaca
ribuan detak mengendarai malam.
Ketukan-ketukan halus jemari pada meja makan
mengajarkan tawa dan luka sekaligus
memberangkatkan hidup sebagai suatu perjalanan biasa
seperti hari Minggu, tiba-tiba saja berada di depan gereja
ribuan detak mengendarai malam.
Ketukan-ketukan halus jemari pada meja makan
mengajarkan tawa dan luka sekaligus
memberangkatkan hidup sebagai suatu perjalanan biasa
seperti hari Minggu, tiba-tiba saja berada di depan gereja
Sabtu, 17 Juli 2010
Semenjak memutuskan bosan untuk berakhir pekan di mall, saban Sabtu saya dan Ai jadi melanglang buana ke berbagai macam jagad.
Lihat apa yang saya temukan minggu lalu di Kakek Bodo...
Lesbian bertebaran di mana-mana, aiih.... tengoklah macam mana gaya pacaran mereka....
1. a



Keterangan:
1.a, 1.b
Pasangan lesbian ini kayaknya ngerasa kalo dunia cuman milik mereka berdua, yang laennya ngontrak dah. Padahal parkir motor aja mereka masih bayar lho! Dalam perkiraan saya dan Ai, pasangan ini baru saja jadian dan baru kali ini juga mereka ngrasain yang namanya pacaran.
Yang suka PDA (public display of affection) di boiskop kalah dah...
Biar kata matahari bersinar benderang, manusia pada lalu-lalang, tetep bisa ciuman lho.
2. Saya berani bertaruh dengan jari kelingking, mereka sepasang lesbian.
3. Mereka bukan pasangan lesbian, tapi mereka pacaran juga kok.
Lihat apa yang saya temukan minggu lalu di Kakek Bodo...
Lesbian bertebaran di mana-mana, aiih.... tengoklah macam mana gaya pacaran mereka....
1. a

1.b


Keterangan:
1.a, 1.b
Pasangan lesbian ini kayaknya ngerasa kalo dunia cuman milik mereka berdua, yang laennya ngontrak dah. Padahal parkir motor aja mereka masih bayar lho! Dalam perkiraan saya dan Ai, pasangan ini baru saja jadian dan baru kali ini juga mereka ngrasain yang namanya pacaran.
Yang suka PDA (public display of affection) di boiskop kalah dah...
Biar kata matahari bersinar benderang, manusia pada lalu-lalang, tetep bisa ciuman lho.
2. Saya berani bertaruh dengan jari kelingking, mereka sepasang lesbian.
3. Mereka bukan pasangan lesbian, tapi mereka pacaran juga kok.
2.
3.
Selasa, 13 Juli 2010
NH Dini marah bukan kepalang di sebuah acara sarasehan sastra sebuah kampus negeri di Yogyakarta. Pasalnya, seorang mahasiswa bangkotan Jurusan Sastra Indonesia melontarkan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan kepada NH Dini.
Kira-kira beginilah apa yang diucapkan oleh sang mahasiswa bangkotan:
"Ibu NH Dini yang terhormat, jujur saya tidak banyak membaca karya anda. Hanya Pada Sebuah Kapal yang pernah saya rampungkan, itu pun berkat desakan seorang paman yang kebetulan adalah guru Bahasa Indonesia saya. Tidak ada menarik-menariknya novel anda, isinya melulu tentang perselingkuhan. Saya penasaran, kenapa anda gemar sekali menulis tentang perselingkuhan di seluruh novel anda? Apa anda punya sebuah tujuan tertentu atau cuma memuaskan hasrat pribadi anda tentang perselingkuhan?"
Kasihan sekali sang mahasiswa bangkotan, sebab hasrat ke-penasaran-nya sama sekali tak terpuaskan. NH Dini malah sibuk bersumpah-serapah atas kesalahan logika bicara sang mahasiswa bangkotan.
Ya, meskipun memang sebagian besar novel NH Dini berbau perselingkuhan. Tapi, amat konyol jika sang mahasiswa bangkotan menyatakan dengan amat percaya diri bahwa semua novel NH Dini semua berbau perselingkuhan setelah dengan amat jujur mengaku bahwa hanya sebiji novel yang dia baca.
Belajar dari kekonyolan sang mahasiswa bangkotan, saya tak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk mengomentari Novel karya Mira W..
Saya tak hendak bilang, "Aduh tante Mira W., saya mah tahu kalo situ dokter dan paham bener dunia per-rumahsakit-an. Tapi mbok ya jangan semua novelnya berbau rumah sakit ma penyakit, selain bosen, kan dunia gak cuman selebar halaman rumah sakit ma fakultas kedokteran doang."
Atau bilang begini, "Tante Mira W., liat deh Taufik Ismail. Biar kata dia dokter hewan, gak melulu juga puisinya tentang suntik-menyuntik sapi ma kebo."
Tidak, saya tak hendak konyol karena saya mau jujur mengaku bahwa Relung-relung Gelap Hati Sisi adalah satu-satunya novel Mira W. yang saya baca. Itu pun dipaksa dan diberi cuma-cuma oleh kekasih saya. Ditambah lagi dengan promosi kekasih saya kalo tu novel konon digembor-gemborkan di berbagai web sebagai bacaan wajib bagi para lesbian.
Di tengah kesibukan bermain game online, saya luangkan waktu khusus untuk membacanya. Maklumlah selain homoseksual, saya juga lebih menghayati peran sebagai homo ludens alias makhluk bermain ketimbang makhluk beriman yang memenuhi sunah rosul guna utlhubul ilma walau bilkitab (baca: tuntutlah ilmu dengan cara membaca buku.)
Sungguh saya merasa amat bangga dan terharu usai membaca Relung-relung Gelap hati Sisi. Bangga karena saya mampu menyelesaikan novel itu sampai pada titik terakhir. Terharu karena ingat betapa keras usaha yang saya kerahkan untuk tidak berhenti membaca atau melemparkannya saja.
Apa saya terdengar berlebihan dan nyinyir? Ya, mungkin sedikit. Tapi, sumpah sebagai pembaca amatir nan budiman dan berusaha cerdas, saya punya dalih kuat untuk membela diri.
Pertama, novel ini hanya cocok bagi pembaca novel realis yang tidak peduli pada logika dan alur cerita. Konon, akibat dipaksa terbit ulang ma Gramedia, novel ini musti direvisi guna menyesuaikan diri dengan pembaca dan zaman. Niat yang sungguh mulia bukan? Tapi sayangnya, terkadang hasil tidak berbanding lurus dengan niat lho. Alih-alih mencocokkan kehadiran karya dengan zaman dan pembacanya, Relung-relung Gelap Hati Sisi malah jadi tidak jelas setting waktunya. Serasa menyaksikan Tarzan pake kolor daun pisang dan teriak auuooo, tapi gelantungan pake tali carmentel dari TP (Tunjungan Plaza) I, ke TP IV.
Coba simak kutipan mengenai psikiater plin-plan yang menangani Airin:
"Tidak ada yang salah Airin," kata psikiater yang ramah itu. "Lagi pula buat apa mencari yang salah? Yang penting membetulkan kesalahan itu." (hlm. 69)
Detik saat saya membaca kutipan di atas, sumpah saya menahan diri untuk tidak berteriak: Lha kalo gak ada yang salah ngapain mesti dibenerin?! Tu psikiater ramah emang plin-plan dari lahir apa lagi kekurangan duit ya...? Belum lagi tu psikiater berpendapat kalo homoseksual bukan penyakit, tapi kok tetep aja berusaha nyembuhin Airin.
Seumur-umur saya tidak pernah mendengar tragedi dua orang perempuan yang dideteksi sebagai lesbian cuma gara-gara menangis dan berpelukan di kamar mandi, kecuali di novel Mira W. tentunya. Gak tahu juga kalo emang kejadian serupa lumrah saja terjadi di tahun 80-an (Relung-relung Gelap Hati Sisi pertama kali terbit tahun 83.) Toh selain tragedi kamar mandi Mira W. tak pernah meyakinkan lebih lanjut ihwal kepergoknya ke-lesbian-an sang tokoh utama, Sisi dan Airin.
Alih-alih menyusun runtutan alur dengan logis, Mira W. malah lebih sibuk memberitahukan sifat dan karakter para tokohnya. Konon memang bagi tante Mira W. ini, novel yang berhasil adalah yang mampu membikin penokohan dengan karakter dan psikologis yang jelas. Tapi ma'ap-ma'ap ni ya, kok rasanya cuman mirip bisik-bisik ibu arisan lagi ngegosip, Eh si A tu baik ya anaknya, tidak sombong, rajin menabung, makanya dia di sayang mertua. Saya yang pembaca amatir namun budiman ini merasa diremehkan, emang saya sebegitu o'onnya sampai buat memahami karakter tokoh aja mesti dikasih tahu.
Mungkin terlalu berlebihan rasanya, karena saya membandingkan penokohannya dengan karya-karya Paulo Coelho. Tapi gimana lagi, aktifitas membaca saya kan senin-kemis, maka maklumilah jika referensi perbandingan saya terbatas. Berdasarkan keterbatasan saya, maka mohon ampun jika kemudian saya berdalih bahwa: Novel ini hanya cocok buat pembaca yang gemar menjadikan tokoh-tokoh fiksi sebagai idola, dan kebetulan pembaca tersebut suka bergosip, serta tidak pernah mengenal karya Paulo Coelho.
Saya sebagai pembaca amatir nan budiman lagi-lagi merasa diremehkan, seakan-akan pembaca novel adalah sekumpulan orang yang mengidap pikun akut. Simak saja pengulangan-pengulangan peristiwa tak penting yang ada di novel tersebut. Salah satunya (kalo baca lebih cermat, anda akan menemukan beberapa lainnya) neh tentang kepindahan bangku duduk Airin di kelas. Belom ada jarak lima halaman, eh diulang lagi, dikasih tahu lagi ihwal kepindahan bangku duduk Airin itu. Maka, jangan salahkan saya kalau akhirnya bilang bahwa: novel ini cocok buat pembaca dengan penyakit pikun akut.
Kebetulan sekali, sampai saat ini saya belum masuk salah satu kategori yang tersebut di atas.
Sebenarnya saya masih punya sejuta cercaan lagi, namun saya merasa harus mencukupkannya. Toh sebenarnya saya tidak akan begitu peduli dengan novel ini maupun Mira W. Toh saya suka eksplorasi pertikaian antara menantu dan mertua yang ada di dalamnya. Jika dan hanya jika saja tak ada embel-embel 'Bacaan wajib lesbian', rasanya saya tidak akan punya begitu besar tenaga untuk menghujat.
Sejuta cercaan saya ganti dengan sejuta heran. Di masa sastra Indonesia belum punya kanon sastra yang jelas, lesbian dah punya bacaan wajib oey! Baguskan?!
Bagi yang percaya bahwa karya sastra tidak hanya dinikmati sebagai pleasure (hiburan) semata, karya sastra bisa jadi tempat belajar hidup. Untungnya lagi karya sastra tidak pernah memaksa kan pelajarannya dengan kasar agar dipercayai laiknya doktrin.
Maka, terasa amat wajar jika para lesbian begitu haus akan karya sastra bertema lesbian. Saya salah satu diantaranya. Namun, biar kata saya merasa amat haus, bukan berarti saya mau saja minum jus lumpur Lapindo campur rendaman air kaos kaki Bakrie. (Loh kok?!)
Ma'ap-ma'ap lagi ni ya tenta Mira W., bukan niat daku menghina-dina dikau. Cuman nasib sampeyan lagi apes aja, novel sampeyan dituding sebagai 'bacaan wajib lesbian'! Biar kata saya ini pembaca amatir nan budiman, ngalkamndulillah kok ya ternyata saya gak tolol-tolol amat. Salahin aja tu orang-orang yang sudah memfitnah novel sampeyan te.
Eh, tapi jangan-jangan sampeyan juga seneng novelnya difitnah? Kan makin laris ya...
Pa lagi saya mencium bau antek-antek Gramedia dalam acara penasbihan 'bacaan wajib lesbian' itu!
Selasa, 22 Juni 2010
Setelah peristiwa pertengkaran akibat kondangan, hubungan saya dengan Ai jadi lebih mesra. Saya jadi merasa tidak sia-sia berairmata bombay waktu itu. Meskipun demikian, saya toh tetap tidak bisa menyukai yang namanya kondangan. Sebatas tidak suka, bukan membenci. Bisa-bisa hati saya penuh dengan kebencian di bulan-bulan ini, kan sekarang lagi musim kawin (dah kayak kucing aja ada musimnya).
Kira-kira jam setengah enam pagi, Ria Amelia dengan SMS-nya melengking-dayu (dangdut seh) membuat saya bangun tidur dengan terpaksa. Dalam perkiraan saya, ibu-ibu tetangga sedang kumat isengnya sehingga mendadak menggelar senam massal.
Pura-pura memanasi motor di depan kamar, saya intip tetangga sebelah lewat pagar. Berharap benar ada sekumpulan ibu-ibu melenggak-lenggokkan badan. Aih... saya kecelik. Cuma ada tiga biji lelaki berdiri di samping sepasang sound system gede. Siang hari saya baru paham betul bahwa tetangga sebelah rupanya sedang punya hajat. Mantenan.
Jadilah sepanjang hari itu lagu dangdut menggema senatero gang. Saya memilih memutar lagu-lagu reggae campur ska untuk menyainginya. Urusan tante kos sekeluarga yang musti cari sumbat telinga akibat polusi bunyi campuran antara dangdut+reggae+ska, saya tidak mau ambil pusing.
Pulang kerja Ai mampir. Tumben bisa ngajak bercanda dari sebuah acara pernikahan. Biasanya hasrat mengajak bertengkar Ai akan tersulut oleh acara macam itu.
"Ada mantenan ya?"
"Iya tuh."
"Wih... dangdutan, tak pegangin ya jempolnya biar gak ikutan goyang."
"Mestinya bekap ni mulut, gatel aja pengen ikutan nyanyi."
Tawaran untuk membekap mulut rupanya ditanggapi dengan serius oleh Ai. Ah, dasar aja tu bojoku mesum dari lahir. Tapi saya juga tidak menolak kok dicium singkat ma dia, he he he....
"Eh, nyanyiin dong. Lagu dangdut yang biasanya sayang nyanyi itu lho." Saya sontak membebaskan diri dari pelukan Ai. Hah? lagu dangdut yang biasa saya nyanyikan?
"Alah, sok-sok an gitu. Biasanya juga dangdutan." Hem... sebegitu seringkah saya bernyanyi lagu dangdut buat dia? Seingat saya cuman sepenggal-sepenggal. Tiap kali Ai hendak pulang saya bernyanyi sepenggal, "Jangan tinggalkan aku... kumohon kepadamu" Tiap kali teleponan sebelum tidur saya bernyanyi sepenggal lagu, "Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu..."
Gak sering-sering amat kan?!
Jadi baiklah saya mengaku bahwa memang tujuan saya nyaingin dangdutan dadakan di rumah sebelah dengan reggae dan ska adalah demi menghindari latah pada bibir saya. Ini hari saya punya jadwal reggae dan ska. Jadwal buat dangdutan masih beberapa hari lagi, setelah Jazz, Hiphop Jawa, dan Bosanova. Saya cuma menghindari kekacauan dalam jadwal mendengarkan musik.
Di tengah perjuangan amat dahsyat untuk bersetia pada reggae dan ska, Ai malah jadi setan penggoda. Ah! Tak paham dia. Fakta bahwa saya terlebih dahulu mengenal dangdut ketimbang genre musik lainnya jadi hal yang amat berpengaruh.
Dahulu kala, semasa saya masih kecil, usai menunaikan sholat subuh ritual selanjutnya adalah menuju dapur. Jika sampai saat ini saya hanya bisa masak mi instant dan telor ceplok, itu karena saya ke dapur bukan buat belajar masak, melainkan icip-icip.
Saya punya ibu rupanya gemar sekali memasak sembari melantunkan tembang-tembang dangdut. Mulai dari lagunya Ida Laila, Kamelia Malik, Iis Dahlia, Elvi sukaesih, ibu saya hapal sepenuhnya. Trio Macan belum ada waktu itu.
Nah, kalau saya jadi hapal lagu-lagu dangdut jaman baheula kemudian jadi fasih menyanyikannya lumrah bukan?
Kalaupun pada akhirnya saya agak jengkel dengan dangdut, tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan total si Raja Dangdut Rhoma Irama.
Semasa saya SD, Si Rhoma itu pernah bikin saya gagal meraih nilai 100 buat pelajaran PMP.
Pasalnya, saya lebih percaya lirik lagu Si Rhoma ketimbang guru SD saya. Ngotot saya isikan 'Bhineka Tunggal IKa' untuk menjawab pertanyaan 'Apa lambang negara Indonesia?'
Coba deh simak lirik lagu Si Rhoma yang judulnya 135.000.000 Masak Si Rhoma dengan pede nyanyi gini, "Bhineka tunggal ika lambang negara kita Indonesia..." Lah... ketipu saya!
Sumpah saudara-saudara, jangan pernah memperdengarkan lagu itu pada anak SD.
Kira-kira jam setengah enam pagi, Ria Amelia dengan SMS-nya melengking-dayu (dangdut seh) membuat saya bangun tidur dengan terpaksa. Dalam perkiraan saya, ibu-ibu tetangga sedang kumat isengnya sehingga mendadak menggelar senam massal.
Pura-pura memanasi motor di depan kamar, saya intip tetangga sebelah lewat pagar. Berharap benar ada sekumpulan ibu-ibu melenggak-lenggokkan badan. Aih... saya kecelik. Cuma ada tiga biji lelaki berdiri di samping sepasang sound system gede. Siang hari saya baru paham betul bahwa tetangga sebelah rupanya sedang punya hajat. Mantenan.
Jadilah sepanjang hari itu lagu dangdut menggema senatero gang. Saya memilih memutar lagu-lagu reggae campur ska untuk menyainginya. Urusan tante kos sekeluarga yang musti cari sumbat telinga akibat polusi bunyi campuran antara dangdut+reggae+ska, saya tidak mau ambil pusing.
Pulang kerja Ai mampir. Tumben bisa ngajak bercanda dari sebuah acara pernikahan. Biasanya hasrat mengajak bertengkar Ai akan tersulut oleh acara macam itu.
"Ada mantenan ya?"
"Iya tuh."
"Wih... dangdutan, tak pegangin ya jempolnya biar gak ikutan goyang."
"Mestinya bekap ni mulut, gatel aja pengen ikutan nyanyi."
Tawaran untuk membekap mulut rupanya ditanggapi dengan serius oleh Ai. Ah, dasar aja tu bojoku mesum dari lahir. Tapi saya juga tidak menolak kok dicium singkat ma dia, he he he....
"Eh, nyanyiin dong. Lagu dangdut yang biasanya sayang nyanyi itu lho." Saya sontak membebaskan diri dari pelukan Ai. Hah? lagu dangdut yang biasa saya nyanyikan?
"Alah, sok-sok an gitu. Biasanya juga dangdutan." Hem... sebegitu seringkah saya bernyanyi lagu dangdut buat dia? Seingat saya cuman sepenggal-sepenggal. Tiap kali Ai hendak pulang saya bernyanyi sepenggal, "Jangan tinggalkan aku... kumohon kepadamu" Tiap kali teleponan sebelum tidur saya bernyanyi sepenggal lagu, "Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu..."
Gak sering-sering amat kan?!
Jadi baiklah saya mengaku bahwa memang tujuan saya nyaingin dangdutan dadakan di rumah sebelah dengan reggae dan ska adalah demi menghindari latah pada bibir saya. Ini hari saya punya jadwal reggae dan ska. Jadwal buat dangdutan masih beberapa hari lagi, setelah Jazz, Hiphop Jawa, dan Bosanova. Saya cuma menghindari kekacauan dalam jadwal mendengarkan musik.
Di tengah perjuangan amat dahsyat untuk bersetia pada reggae dan ska, Ai malah jadi setan penggoda. Ah! Tak paham dia. Fakta bahwa saya terlebih dahulu mengenal dangdut ketimbang genre musik lainnya jadi hal yang amat berpengaruh.
Dahulu kala, semasa saya masih kecil, usai menunaikan sholat subuh ritual selanjutnya adalah menuju dapur. Jika sampai saat ini saya hanya bisa masak mi instant dan telor ceplok, itu karena saya ke dapur bukan buat belajar masak, melainkan icip-icip.
Saya punya ibu rupanya gemar sekali memasak sembari melantunkan tembang-tembang dangdut. Mulai dari lagunya Ida Laila, Kamelia Malik, Iis Dahlia, Elvi sukaesih, ibu saya hapal sepenuhnya. Trio Macan belum ada waktu itu.
Nah, kalau saya jadi hapal lagu-lagu dangdut jaman baheula kemudian jadi fasih menyanyikannya lumrah bukan?
Kalaupun pada akhirnya saya agak jengkel dengan dangdut, tidak lain dan tidak bukan adalah kesalahan total si Raja Dangdut Rhoma Irama.
Semasa saya SD, Si Rhoma itu pernah bikin saya gagal meraih nilai 100 buat pelajaran PMP.
Pasalnya, saya lebih percaya lirik lagu Si Rhoma ketimbang guru SD saya. Ngotot saya isikan 'Bhineka Tunggal IKa' untuk menjawab pertanyaan 'Apa lambang negara Indonesia?'
Coba deh simak lirik lagu Si Rhoma yang judulnya 135.000.000 Masak Si Rhoma dengan pede nyanyi gini, "Bhineka tunggal ika lambang negara kita Indonesia..." Lah... ketipu saya!
Sumpah saudara-saudara, jangan pernah memperdengarkan lagu itu pada anak SD.
Senin, 07 Juni 2010
"Sebuah undangan pernikahan membikin kita bertengkar. Kepalaku berdenyar hebat, ini bukan tentang undangan pernikahan. Tapi, pertengkaran-pertengkaran remeh-temeh yang pada akhirnya menjelma bergunung-gunung batu."
Saya benar-benar sedang tidak berselera untuk bertengkar. Jelas sekali saya katakan sedang tidak berselera, meski saya pun tidak benar-benar paham kapan saya berselera untuk bertengkar. Tapi, sesekali saya demikian bersemangat menyulut pertengkaran kecil dengan Ai. Yah... semacam proyek kecil-kecilan belajar hal bernama 'managemen konflik.' Hem... tapi tidak menutup kemungkinan hal terakhir yang saya sebutkan tadi hanya alasan yang dicari-cari. Hah!"Selingkuhlah Ai... Please."
"Sama siapa?"
"Siapa saja, kan Ai tinggal milih."
"Please deh, Beib."
Saya tidak main-main menyuruh Ai selingkuh. Berulangkali permintaan agar Ai selingkuh saya lontarkan. Saya rasa Ai juga tahu kalau saya tidak main-main.
"Aku orang yang sederhana Beib. Sudahlah, tidak usah macam-macam. Perempuan seumuran aku sudah capek bermain-main."
"Ya, selingkuh beneran. Bukan selingkuh-selingkuhan. Lagian nih ai, konon banyak tu perempuan yang lebih tua dari Ai selingkuh ma brondong-brondong."
"Aku dah punya brondong, tanpa diulang lho ya. Cuma satu!"
"Iya, tapi kan..."
"Beib, please. Tolong pijit bahuku Beib, seharian ngerjain pajak kok pegel banget rasanya."
Selalu seperti itu. Perbincangan selalu dikandaskan dengan sengaja oleh Ai. Bab perselingkuh jadi pijit-pijitan. Bab perselingkuh jadi dua cangkir kopi. Bab perselingkuhan jadi bahan bercandaan. Tapi saya bilang sekali lagi, saya tidak bercanda menyuruh Ai selingkuh. Lagi pula amat mungkin perselingkuhan dua manusia berawal dari tertawa, dua cangkir kopi, pun pijit-pijitan.
Jangan sebut saya gila hanya karena meminta kekasih saya selingkuh. Sementara di luar sana para feminis kian getol menyusun tafsir-tafsir baru demi mengenyakhan yang namanya poligami (poliandri juga ya mustinya, ha ha ha). Pun situs-situs homosexual yang menyerukan bahwa satu pasangan cukup.
Saya tidak gila, justru saya merasa amat waras. Atau katakanlah saya sedang berusaha merasa waras dengan menyuruh Ai selingkuh.
Langganan:
Entri (Atom)
