Sabtu, 20 Februari 2010
Pernah tiba-tiba merasa kangen dengan orang yang tidak benar-benar kau kenal?
Tak ubahnya orang asing yang tiba-tiba masuk rumahmu tanpa mengetuk pintu. Kemudian menggunakan kamar mandi tanpa bertanya di mana letaknya. Sebuah bagian dari rumah yang begitu privat. Di mana kau bisa berlama-lama menggosok gigi dan tak ada yang peduli meski kau menelan seluruh busa pasta gigi. Di mana sepuas hati kau dapat mengagumi hidung yang mampu berkompromi dengan bau feses dan mengubahnya sebagai wangi, dan tak seorang pun berhak ikut menikmati.
Perempuan itu masih bisa maklum kalau saat ini hatinya terjangkit romantisme berlebih. Kabut tipis bergulat dengan matahari pagi membentuk tarian berwarna emas di puncak Merapi. Semacam tukang sulap, bimsalabim, tidak ada yang bisa mengelak untuk menjadi pujangga dalam sekejap mata. Alam menyelendupkan kata-kata pada jiwa begitu saja, tak seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia yang terlebih dulu mesti dibuka.
Perempuan itu masih akan menikmati romantisme berlebih dan menyempurnakannya dengan sebatang rokok, jika saja ia tak menyadari ada sebuah perasaan yang berjarak dengan dirinya sendiri. Sebuah perasaan asing, pada seseorang yang asing pula. Orang asing? Sebenarnaya begini, sudah jelas namanya siapa, apa pekerjaannya, tinggal dimana, cukup untuk sebuah perkenalan awal. Kemudian berlanjut pada basa-basi biasa, cukup untuk disebut sebagai kenalan. Tapi merasa kangen pada situasi romantisme berlebih pada orang itu, membuat ia merasa perlu menyebutnya sebagai orang asing. Orang asing yang lancang memakai kamar mandi hatinya.
Awalnya ia sangat kesal, tapi ternyata rasa heran menjadi lebih besar jumlahnya. Hingga ia memutuskan menyerah dan berangsur menikmati. Seperti menghisap ganja untuk kali pertama, tersedak, namun kau akan terlena di hisapan berikutnya.
Ia mungkin lupa, pada tahun-tahun yang sudah jauh tertinggal, ia pernah memimpikan sebuah cinta yang ajaib. Em… seperti jatuh cinta pada seseorang yang tanpa sengaja menyenggol tangannya di jalan. Kini, ia mesti gagap ketika impian terlupa itu tegak di hadapannya. Ia tak pernah tahu bahwa dua bulan ke depan, orang asing itu akan menjelma sebagai sosok yang lebih mengenalnya dibanding siapapun. Hingga ia akan lebih memilih membenturkan kepala ke bebatuan Merapi ketimbang menyebut orang itu sebagai orang asing.
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Tak ubahnya orang asing yang tiba-tiba masuk rumahmu tanpa mengetuk pintu. Kemudian menggunakan kamar mandi tanpa bertanya di mana letaknya. Sebuah bagian dari rumah yang begitu privat. Di mana kau bisa berlama-lama menggosok gigi dan tak ada yang peduli meski kau menelan seluruh busa pasta gigi. Di mana sepuas hati kau dapat mengagumi hidung yang mampu berkompromi dengan bau feses dan mengubahnya sebagai wangi, dan tak seorang pun berhak ikut menikmati.
Perempuan itu masih bisa maklum kalau saat ini hatinya terjangkit romantisme berlebih. Kabut tipis bergulat dengan matahari pagi membentuk tarian berwarna emas di puncak Merapi. Semacam tukang sulap, bimsalabim, tidak ada yang bisa mengelak untuk menjadi pujangga dalam sekejap mata. Alam menyelendupkan kata-kata pada jiwa begitu saja, tak seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia yang terlebih dulu mesti dibuka.
Perempuan itu masih akan menikmati romantisme berlebih dan menyempurnakannya dengan sebatang rokok, jika saja ia tak menyadari ada sebuah perasaan yang berjarak dengan dirinya sendiri. Sebuah perasaan asing, pada seseorang yang asing pula. Orang asing? Sebenarnaya begini, sudah jelas namanya siapa, apa pekerjaannya, tinggal dimana, cukup untuk sebuah perkenalan awal. Kemudian berlanjut pada basa-basi biasa, cukup untuk disebut sebagai kenalan. Tapi merasa kangen pada situasi romantisme berlebih pada orang itu, membuat ia merasa perlu menyebutnya sebagai orang asing. Orang asing yang lancang memakai kamar mandi hatinya.
Awalnya ia sangat kesal, tapi ternyata rasa heran menjadi lebih besar jumlahnya. Hingga ia memutuskan menyerah dan berangsur menikmati. Seperti menghisap ganja untuk kali pertama, tersedak, namun kau akan terlena di hisapan berikutnya.
Ia mungkin lupa, pada tahun-tahun yang sudah jauh tertinggal, ia pernah memimpikan sebuah cinta yang ajaib. Em… seperti jatuh cinta pada seseorang yang tanpa sengaja menyenggol tangannya di jalan. Kini, ia mesti gagap ketika impian terlupa itu tegak di hadapannya. Ia tak pernah tahu bahwa dua bulan ke depan, orang asing itu akan menjelma sebagai sosok yang lebih mengenalnya dibanding siapapun. Hingga ia akan lebih memilih membenturkan kepala ke bebatuan Merapi ketimbang menyebut orang itu sebagai orang asing.
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar