Kamis, 18 Februari 2010
Malam itu aku menjadikannya kepompong belang. Hidung peseknya semakin lucu, bersemu merah dibebat dingin.
"Sayang, kok yang terang cuman bagian itu," kepompong belang menunjuk permukaan pantai yang dilumuri keemasan sinar bulan.
"Hah... kan bulannya di sebelah sana pesek. kayaknya aku salah deh milih kekasih, cuma pinter ngitung duit ma pajak doang," aku melet.
"Iiih... kok kekasihnya digituin seh..?!!"
"Biarin," melet lagi.
Akhirnya setelah sekian lama, kepompong belang bisa juga menemaniku menyaksikan bagaimana alam begitu piawai melukis keindahan: bulan tenggelam. Parangtritis memang luar biasa, ia memang tak pernah memiliki sunset yang sempurna. Tapi menyaksikan bulan perlahan rebah, cahaya lembut keemasan membelai ombak di sebelah barat, semua orang akan jatuh cinta.
"Ini pasir langka, sejak ribuan tahun lalu proses pembentukannya bermula. Lahar Merapi, sungai Opak dan Progo, Samudra Hindia, semua bekerja sama membangun gumuk-gumuk sabit. Lihat, pasirnya bergerak kan, lembut."
Aku menunjuk pasir yang bergerak merangkak menjauhi pantai, dimainkan angin dengan lembut.
"Hem..." kepompong belang seakan menikmati duduk di hamparan pasir. Tiba-tiba ia memandangku. Ah tidak, aku menangkap kilauan nakal di matanya.
"Emhh...," aku tak sempat melanjutkan kata-kata. Bibirnya mengunci lekat bibirku, lebih lembut dari pasir Parangtritis.
"Aku bisa memenuhi keinginan Ai kan,"
"Apa?"
"Berciuman di bawah sinar bulan," Puas sekali tampaknya kepompong belang mengucapkan itu.
Aku tergelak. Kepompong Belang masih mengingat hayalanku hampir dua tahun yang lalu. Satu hal yang sangat kukagumi dari kepompong belang adalah ingatannya. Tanggal, bulan, hari, ia bisa ingat dengan detail. Sementara terkadang dengan lugunya aku bertanya padanya, "Sekarang tanggal berapa?"
"Gak usah kagum gitu, kerjaanku memang menuntut sepeti itu."
"GR, siapa yang kagum."
Aku tidak pernah bisa membayangkan seandainya bekerja seperti dia. Teliti, ingatannya tajam, tekun, ah.... bunuh saja aku. Menghadapi meeting dan si bos yang sering bertanya:
"Proyek tiga tahun lalu itu, perusahaan anu ngasih kita berapa ya?"
"Pajak kita tahun 2002 berapa ya?"
Sementara rekan sekerjanya masih ber aa... ee... ria, dalam hitungan detik dia bisa menjawab dengan tepat.
"Nggak tahu, ya ingat aja, kan aku yang ngerjain," enteng sekali kepompong belang menanggapi keherananku.
Kepompong belang emang cerdas, dan aku mencintai kecerdasan. Terlebih dia memberikan rasa nyaman buatku. Bersamanya seperti memimpikan sesuatu yang indah, berharap tak pernah terbangun. Tapi hidup tak melulu tidur. Makanya, selagi belum terbangun, aku akan menikmati sebisaku.
Melupakan bahwa sebelumnya aku berkeliaran di Parangtritis dua hari semalam. Bersenang-senang? menikmati pantai? Tidak sama sekali!
Cuma mendengar umpatan-umpatan pedagang Parangtritis karena aku nekad membikin mereka memutar ingatan pada hari di mana mereka digusur. Memang bukan ditujukan padaku umpatan itu, tapi tetap saja pening kepala dengar orang mengumpat terus-terusan.
Ah, semua hal bisa diredam asal kepompong belang deket-deket aku.
Tulisan tentang penggusuran? nanti dulu
Korban penggusuran Parangtritis? kasihan seh, nanti advokasi lewat tulisan. tapi nanti...
Skripsi belum kelar? ah gampang.
Selama kepompong belang di sampingku, dia akan terus-terusan menyuntikkan virus kepompong belang terus. Aku hilang ingatan akan semua hal, kecuali tentang dia. Dia ajaib, makanya aku mencitainya, amat!
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
"Sayang, kok yang terang cuman bagian itu," kepompong belang menunjuk permukaan pantai yang dilumuri keemasan sinar bulan.
"Hah... kan bulannya di sebelah sana pesek. kayaknya aku salah deh milih kekasih, cuma pinter ngitung duit ma pajak doang," aku melet.
"Iiih... kok kekasihnya digituin seh..?!!"
"Biarin," melet lagi.
Akhirnya setelah sekian lama, kepompong belang bisa juga menemaniku menyaksikan bagaimana alam begitu piawai melukis keindahan: bulan tenggelam. Parangtritis memang luar biasa, ia memang tak pernah memiliki sunset yang sempurna. Tapi menyaksikan bulan perlahan rebah, cahaya lembut keemasan membelai ombak di sebelah barat, semua orang akan jatuh cinta.
"Ini pasir langka, sejak ribuan tahun lalu proses pembentukannya bermula. Lahar Merapi, sungai Opak dan Progo, Samudra Hindia, semua bekerja sama membangun gumuk-gumuk sabit. Lihat, pasirnya bergerak kan, lembut."
Aku menunjuk pasir yang bergerak merangkak menjauhi pantai, dimainkan angin dengan lembut.
"Hem..." kepompong belang seakan menikmati duduk di hamparan pasir. Tiba-tiba ia memandangku. Ah tidak, aku menangkap kilauan nakal di matanya.
"Emhh...," aku tak sempat melanjutkan kata-kata. Bibirnya mengunci lekat bibirku, lebih lembut dari pasir Parangtritis.
"Aku bisa memenuhi keinginan Ai kan,"
"Apa?"
"Berciuman di bawah sinar bulan," Puas sekali tampaknya kepompong belang mengucapkan itu.
Aku tergelak. Kepompong Belang masih mengingat hayalanku hampir dua tahun yang lalu. Satu hal yang sangat kukagumi dari kepompong belang adalah ingatannya. Tanggal, bulan, hari, ia bisa ingat dengan detail. Sementara terkadang dengan lugunya aku bertanya padanya, "Sekarang tanggal berapa?"
"Gak usah kagum gitu, kerjaanku memang menuntut sepeti itu."
"GR, siapa yang kagum."
Aku tidak pernah bisa membayangkan seandainya bekerja seperti dia. Teliti, ingatannya tajam, tekun, ah.... bunuh saja aku. Menghadapi meeting dan si bos yang sering bertanya:
"Proyek tiga tahun lalu itu, perusahaan anu ngasih kita berapa ya?"
"Pajak kita tahun 2002 berapa ya?"
Sementara rekan sekerjanya masih ber aa... ee... ria, dalam hitungan detik dia bisa menjawab dengan tepat.
"Nggak tahu, ya ingat aja, kan aku yang ngerjain," enteng sekali kepompong belang menanggapi keherananku.
Kepompong belang emang cerdas, dan aku mencintai kecerdasan. Terlebih dia memberikan rasa nyaman buatku. Bersamanya seperti memimpikan sesuatu yang indah, berharap tak pernah terbangun. Tapi hidup tak melulu tidur. Makanya, selagi belum terbangun, aku akan menikmati sebisaku.
Melupakan bahwa sebelumnya aku berkeliaran di Parangtritis dua hari semalam. Bersenang-senang? menikmati pantai? Tidak sama sekali!
Cuma mendengar umpatan-umpatan pedagang Parangtritis karena aku nekad membikin mereka memutar ingatan pada hari di mana mereka digusur. Memang bukan ditujukan padaku umpatan itu, tapi tetap saja pening kepala dengar orang mengumpat terus-terusan.
Ah, semua hal bisa diredam asal kepompong belang deket-deket aku.
Tulisan tentang penggusuran? nanti dulu
Korban penggusuran Parangtritis? kasihan seh, nanti advokasi lewat tulisan. tapi nanti...
Skripsi belum kelar? ah gampang.
Selama kepompong belang di sampingku, dia akan terus-terusan menyuntikkan virus kepompong belang terus. Aku hilang ingatan akan semua hal, kecuali tentang dia. Dia ajaib, makanya aku mencitainya, amat!
Label : AntiVir pimmy ride Property Tip Blog Template car body design
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar